Jumat, 11 Mei 2012

Apa Kabar Kelas Intensif Bahasa Jerman?


Pernah mendengar mengenai Kelas Intensif jerman? Ya, kelas intensif bahasa Jerman yang sudah berdiri sejak tahun 2009 ini diadakan karena SMAN 5 Surabaya merupakan salah satu dari tiga sekolah menengah atas di Jawa Timur yang mendapatkan predikat partner schüle atau sister school dengan Goethe Institute(Jerman).
           
            Smalane yang memilih kelas bahasa Jerman dapat mengikuti kelas intensif ini secara cuma-cuma. Pada awalnya, animo dari Smalane sangat luar biasa. Namun, lambat laun kelas ini mulai sepi peminat. Hal ini pula yang diungkapkan oleh Bapak Feri Kuswanto, yang akrab dipanggil Herr Feri selaku pembimbing kelas intensif bahasa Jerman.

                        Proses pembelajaran di kelas intensif Bahasa Jerman oleh Herr Feri (ayr)
           
            “Awalnya memang banyak yang berminat terutama karena sertifikat dan beasiswa ke Jerman, tapi karena suatu hal ya mungkin mereka jadi tidak bisa mengikuti kelas ini lagi,” ujar pria berusia 25 tahun ini. “Banyak siswa yang mengikuti les, ekstrakurikuler, dan kepanitiaan yang mungkin lebih diprioritaskan dibanding kelas intensif  ini,” lanjutnya.

            Ya, kesibukan siswa baik kesibukan internal maupun eksternal adalah faktor yang membuat jumlah siswa kelas intensif bahasa Jerman mulai gugur satu persatu. Padahal, kelas yang dilaksanakan pada hari Senin sampai Jumat ini mengajarkan materi yang lebih express serta menggunakan metode pembelajaran yang lebih menarik dibandingkan metode pembelajaran di kelas. Seperti yang diungkapkan oleh Raden Dicky Johar Pribadi, salah satu siswa yang masih rutin mengikuti kelas intensif bahasa Jerman. “Metode pembelajarannya jauh lebih menarik, kita nggak cuma diajari teori tapi juga ada games, speaking, dan listening. Jadi kerasa lebih fun daripada di kelas,” ujar siswa kelas X-1 ini. Meskipun jumlah siswa yang hadir tidak menentu, SMAN 5 Surabaya selalu mampu mengirimkan 3 siswa-siswinya berangkat ke Jerman setiap tahunnya.       
                       
            Bila dilihat dari segi output, kelas intensif bahasa Jerman ini sangat bermanfaat bagi sekolah maupun siswa. Pihak sekolah mendapatkan keuntungan yaitu bertahannya predikat partner schüle, sedangkan siswa mendapat tambahan pelajaran dan sertifikat bila mengikuti ujian akhir bahasa Jerman yang diadakan langsung oleh Goethe Institute. Fadhila Nur Fajri, seorang siswa kelas XI Akselerasi mengaku bahwa tujuan utama mengikuti kelas intensif Jerman adalah untuk mendapatkan tambahan pelajaran, bukan hanya mengejar sertifikat dan beasiswa ke Jerman. “Ya aku merasa butuh aja, soalnya kalau cuma ikut pelajaran di kelas takut nggak bisa. Jadi nyoba ikutin intensif bahasa Jerman,” paparnya.
           
            Menurunnya minat Smalane inilah yang dikhawatirkan oleh guru-guru pembimbing kelas intensif bahasa Jerman. Karena jika jumlah peminat kelas intensif ini semakin menurun setiap tahunnya, maka predikat partner schüle akan dicabut oleh Goethe Institute. Jadi, Smalane yang telah berhenti mengikuti kelas intensif bahasa Jerman, berminat untuk kembali? (miw/acr) 

Kamis, 10 Mei 2012

Kepanitiaan; Miniatur Dunia Nyata di SMA


Pendidikan formal yang begitu disanjung-sanjung selama ini ternyata tidak sepenuhnya menjamin seseorang untuk memiliki kehidupan karir yang bagus, lho.
Kok bisa?
Seperti kita tahu, pendidikan di Indonesia selama ini hanya mengedepankan teori dan sedikit sekali memerhatikan aspek praktek di kehidupan nyata. Padahal menurut penelitian dari Universitas Harvard, kesuksesan seseorang ditentukan oleh 80% soft skill (kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain dan berorganisasi) sementara hard skill atau ilmu pendidikan formal hanya mendapat porsi 20% saja. Untuk itu, Smala menyediakan wadah bagi mereka yang ingin mengasah soft skill berupa adanya berbagai macam kepanitiaan.
                Di Smala, total ada 27 kepanitiaan dari skala lokal (khusus untuk Smalane saja) hingga provinsi yang diadakan rutin setiap tahunnya. Maka itu tak heran jika di Smala budaya untuk terlibat dalam kepanitiaan begitu mengakar erat. Bahkan tiap ada kepanitiaan, para Smalane seakan berlomba-lomba untuk terlibat di dalamnya karena bagi sebagian siswa, kepanitiaan ibarat miniatur dunia nyata untuk menjadi ajang pembuktian kualitas diri. Tradisi liqo’ atau rapat dengan cara duduk di lantai dan membentuk lingkaran juga semakin menguatkan bahwa Smala memiliki ciri khas kepanitiaan yang jarang ada di sekolah lain. Tetapi selain untuk mengisi waktu luang, apa saja sih manfaat dari mengikuti kepanitiaan?
                


RAMAI: Para siswa kelas X sedang berkumpul saat istirahat. (als)



SERIUS: Suasana diskusi (liqo') panitia Senyuman 2012. (als)


Dalam suatu kepanitiaan selalu ada Badan Pengurus Harian (BPH) yang biasanya terdiri dari ketua, wakil, sekretaris, bendahara, pengawas, serta koordinator divisi. Bila kita menjadi salah satu dari BPH tersebut, kita mendapat wewenang dan amanah lebih untuk mengatur anggota-anggota di bawah kita sehingga tanggung jawabnya pun lebih besar pula. Apalagi jika kita adalah ketuanya, maka kita bertanggung jawab penuh atas keberhasilan maupun kegagalan kepanitiaan tersebut. Dan disinilah kemampuan kepemimpinan kita diuji. Seorang pemimpin harus mampu mengendalikan dan memahami seluruh anggotanya serta membuat keputusan yang tepat dalam situasi apapun.
                Meski begitu, anggota atau panitia lain selain BPH jangan dianggap remeh, karena ibaratnya mereka adalah ‘mesin’ yang menggerakkan suatu kepanitiaan. Dibawah naungan koordinator divisi, para panitia bertugas menjalankan tugas yang diberikan sesuai dengan divisinya. Sekecil apapun suatu tugas, jika tidak diselesaikan maka kepanitiaan tersebut tidak akan berjalan dengan maksimal. Dengan menjadi panitia (di divisi apapun), kita belajar bekerja dalam tim, berkomunikasi dengan berbagai macam karakter orang, dan menjalankan tugas secara profesional.
                “Awalnya aku ikut kepanitiaan buat nambah pengalaman. Ternyata setelah ikut aku bisa kenal banyak orang, juga dapet ilmu-ilmu baru yang nggak diajari waktu pembelajaran biasa,” kata Tsana Nadhira Susanto yang hari Minggu, 6 Mei, kemarin bertugas sebagai panitia Acara Bahasa Indonesia S2LC. “Selain itu, kemampuan berorganisasi kan bisa dipakai di masa depan. Setelah ikut kepanitiaan aku juga jadi bisa ngatur waktu,” sambung Deshya Erdia.
               Di zaman sekarang, angka-angka di rapor bukan lagi satu-satunya penentu keberhasilan seseorang di masa mendatang. Bahkan perusahaan-perusahaan ternama pun saat ini lebih memilih orang-orang dengan kemampuan berorganisasi yang mumpuni dibandingkan dengan mereka yang hanya bermodalkan IP tinggi di bangku kuliah. Kebanyakan mereka yang hanya pintar secara akademis tanpa memerhatikan soft skill pada akhirnya hanya akan berakhir di golongan pengangguran terdidik yang kini mulai banyak ditemui di masyarakat. Fokus belajar sah-sah saja, tapi tetap harus diimbangi dengan soft skill yang baik pula karena penerapan ilmu-ilmu di ijazah kita tetaplah di dunia nyata yang dinamis, bukan di dunia yang melulu berkutat dengan nilai dan teori. (cay)

Rabu, 09 Mei 2012

Selangkah Lagi Menuju Play Off

Kemenangan kembali diraih tim basket putra SMA Negeri 5 Surabaya dalam pertandingan Honda Development Basketball League (DBL) 2012 East Java Series-North Region kemarin (8/5). Setelah berhasil menaklukkan SMA Petra 1 dengan skor 27-24 pada Opening Party Jumat lalu (4/5), tim basket Smala (sebutan untuk SMA Negeri 5 Surabaya) yang juga berhasil menang melawan SMA Negeri 1 Waru dengan skor 25-18, kini menempati posisi teratas pada klasemen sementara grup H Babak Utama Honda DBL 2012 East Java Series-North Region.
          
Skor pertama pada pertandingan melawan Smantaru (sebutan untuk SMA Negeri 1 Waru) kemarin (8/5) dicetak oleh Hafizh, guard tim basket Smala. Smala kemudian bermain dengan sangat baik dan berhasil mengakhiri kuarter pertama dengan skor 6-0 untuk Smala. Pada kuarter kedua, Smantaru berhasil menembus defend Smala dan mencetak satu poin melalui freethrow. Kuarter kedua pun berakhir dengan skor 11-1 dengan Smala tetap memimpin. 

Hafizh, guard tim basket Smala saat akan mencetak skor pertama (mfa)
Tim basket Smala terus unggul selama jalannya pertandingan, meskipun pada menit-menit terakhir di kuarter keempat, Smantaru sempat memperkecil ketertinggalan skor menjadi 12-20. Walaupun begitu, Smala tetap memimpin hingga peluit akhir dibunyikan dengan skor akhir 25-18. Dengan kemenangan itu, maka tim basket Smala tinggal selangkah lagi menuju babak play off.

Pertandingan yang menegangkan pada menit-menit terakhir kuarter keempat (mfa)
Namun, kemenangan tersebut diakui pelatih tim basket Smala, Alfian Rachmad, belum cukup maksimal. “Permainan kali ini kurang baik. Meskipun defend mereka sudah lumayan, namun banyak finishing yang tidak masuk. Mungkin ini karena meremehkan kesempatan yang ada sehingga kehilangan fokus dalam finishing.” ujar Alfian.

“Skor pertandingan ini seharusnya bisa lebih baik lagi.” ucap Madis Abiza,  asisten pelatih tim basket Smala, menyetujui. Dengan skor kemarin, goal average Smala masih berada di bawah SMA Petra 1. Smala masih harus memenangkan pertandingan Senin depan (14/5) melawan SMAN 1 Gresik untuk dapat lolos dari babak penyisihan grup menuju babak sweet sixteen. (tio/mir)

Selasa, 08 Mei 2012

Pakai Hati, Tak Pernah Sendiri


Kenong, bonang penerus, bonang barung, kempyang, dan kethuk. Ya, itulah seperangkat alat musik asli Indonesia yang digunakan untuk karawitan. Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar nada-nada khas musik karawitan di hari Sabtu atau sepulang sekolah. Siapa lagi yang pandai memainkan alat musik ini di Smala kalau bukan Smalane yang tergabung dalam SS Karawitan? Nah, simak hasil perbincangan kami dengan ketua SS Karawitan, Bianda XI IS, agar kita dapat lebih mengenal SS hebat yang telah membantu melestarikan budaya Indonesia ini.

Bianda saat diwawancarai di depan kelasnya, XI IS (tir)

SS Karawitan sudah ada dan berkembang di Smala sejak lama. Dulu jumlah anggota SS ini bisa dibilang sedikit karena antusiasme Smalane tidak terlalu besar. “Aku dulu ikut ini gara-gara waktu itu di-halo-halo-in sama masnya,” ujar Bianda saat ditanya soal niat awalnya berpartisipasi di SS ini. Walaupun mempunyai jumlah anggota yang sedikit, SS ini tetap rajin dan tekun latihan. Bersyukur, tahun ini jumlah anggota meningkat, apalagi semangat dari para anggota baru juga sangat besar karena merekalah yang selalu meminta agar latihan lebih rutin.
            Salah satu keuntungan yang diperoleh dari jumlah anggota yang sedikit di tahun-tahun yang lalu, SS ini tidak perlu mengadakan iuran! Wah, kenapa bisa begitu ya? “Anggotanya kan sedikit, jadi pengeluaran tidak terlalu besar. Dulu sempet ada iuran, tapi kebanyakan. Akhirnya iuran yang dulu itu bisa digunakan sampai sekarang," jawab Bianda.
Ketua SS beranggotakan 30 Smalane ini mengungkapkan keinginannya untuk menarik minat Smalane lainnya terhadap SS yang dinaunginya. Ia dan anggota SS Karawitan lainnya berusaha menarik animo Smalane melalui demo SS yang diadakan saat S2LC dan Perisai. Jika ada demo SS, Bianda dan kawan-kawan memaksimalkan jadwal latihan mereka yang mulanya hanya hari Sabtu menjadi setiap hari sepulang sekolah. Pak Puguh, pelatih SS Karawitan yang juga merupakan seorang guru SD terkadang tak bisa hadir dan akibatnya anggota SS Karawitan harus berlatih sendiri. Tapi menurut Bianda, hal itulah yang menjadi nilai istimewa dari SS Karawitan ini, selain tentunya Pendopo pribadi milik mereka yang dibangun oleh Pemprov Jawa Timur.

 Pendopo Karawitan yang dibangun oleh Pemprov Jawa Timur dan telah diresmikan pada 6 Maret 2012 oleh wakil walikota Surabaya, Bapak Bambang D. H. (tir)

Kuantitas memang penting, tapi kualitas juga tak kalah penting. Begitulah harapan Bianda terhadap SS Karawitan di tahun-tahun mendatang, tetap aktif dengan jumlah anggota yang semakin banyak, namun juga tak melupakan kualitas. Menurutnya, masih banyak anggota kelas 10 yang belum mampu bermain musik dengan hati. Padahal, karawitan memerlukan kepekaan dan tingkat fokus yang tinggi. Seorang pemain kenong harus bermain dengan pemain bonang penerus, bonang barung, kempyang, dan kethuk. Jadi pada intinya, tak ada yang namanya bermain sendiri dalam karawitan. Semua harus bermain bersama agar menciptakan alunan musik yang indah, dan bukannya asal-asalan. (nlv/ars)



Selasa, 06 Maret 2012

Tentang Peresmian Pendopo Karawitan dan 'School Heritage'

                Peresmian Pendopo Karawitan dan Pendopo Pinter yang telah lama ditunggu-tunggu Smalane akhirnya berlangsung hari ini (Selasa, 6 Maret 2012). Berlokasi di lapangan utara tempat dimana dua pendopo itu dibangun, pukul 9 tepat seluruh warga Smalane yang tidak sedang mengikuti ujian diwajibkan untuk menyaksikan peresmian ini. Karena terbatasnya tempat duduk, maka sebagian murid yang menonton terpaksa berdiri di belakang terop. Untungnya, cuaca saat itu sedang cerah dan berangin sehingga para penonton tidak merasa kepanasan.
                Pukul 9 lebih akhirnya tibalah tamu spesial yang diundang untuk menghadiri acara peresmian ini, yaitu Bapak Bambang D.H yang saat ini sedang menjabat sebagai wakil walikota Surabaya. Beliau tidak sendirian, melainkan didampingi oleh beberapa wakil dari Dinas Pendidikan Surabaya. Setelah semua tamu yang hadir duduk, Pak Latief selaku MC pun memandu acara ini dari awal hingga akhir.
                Sebagai pembuka, tim PSGS menyanyikan lagu Indonesia Raya dan para hadirin dipersilahkan berdiri. Setelah itu, disusul oleh lagu Break Break Break, kemudian lagu Yamko Rambe Yamko yang dibawakan secara semi-teatrikal. Tak pelak, setelah tim PSGS membungkuk tanda penampilan mereka selesai, para hadirin memberi tepuk tangan yang panjang dan meriah.
              Penampilan selanjutnya datang dari SS Karawitan yang saat itu juga langsung menggunakan pendopo baru mereka. Diselingi oleh sinden dari Astrid kelas XI-IS, kemudian pertunjukan utama datang dari SS Tari yang diiringi oleh SS Karawitan. Begitu indahnya tari tradisional yang dibawakan hingga para tamu dan penonton yang hadir berdecak kagum, meskipun penarinya hanya berjumlah empat orang.
                Selanjutnya adalah sambutan dari Bapak Suharyono yang baru saja diangkat menjadi pengawas di Dinas Pendidikan Surabaya dan tidak lagi menjabat sebagai Kepala Sekolah SMA Negeri 5. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Bambang D.H. dengan gayanya yang khas dengan candaan yang membuat para penonton sesekali tertawa. Di tengah-tengah sambutan, beliau juga menekankan tentang pentingnya keseimbangan antara ilmu dan agama. "Ilmu pengetahuan tanpa agama buta. Agama tanpa ilmu pengetahuan lumpuh", tegasnya. Puncaknya, wakil walikota Surabaya tersebut menandatangani prasasti tanda peresmian Pendopo Karawitan dan Pendopo Pinter, kemudian memotong pita berupa rangkaian bunga yang digantung di pintu masuk Pendopo Karawitan.
                Acara yang berlangsung selama hampir 2 jam tersebut akhirnya ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh Pak Dahlan, dengan harapan semoga pendopo-pendopo yang baru diresmikan ini mampu menunjang kegiatan para Smalane dan meningkatkan prestasi SMA Negeri 5. Setelah berdo’a, pemotongan tumpeng dilakukan dan murid-murid dipersilahkan kembali ke kelas, sedangkan guru-guru beserta tamu mengikuti acara ramah tamah di Pendopo Pintar.
Dengan resminya dua pendopo yang sangat krusial bagi penyelenggaraan kegiatan Smalane ini, tentu tak heran jika kita diharapkan mampu mewujudukan predikat ‘School Heritage’ alias Sekolah Kebudayaan yang didapat Smala saat ini. Tidakkah akan terasa ironis jika dengan adanya bantuan dari pemerintah berupa alat-alat musik baru dan pembangunan Pendopo Karawitan tapi dukungan untuk kegiatan kebudayaan di Smala saja masih sangat minim? Predikat Sekolah Kebudayaan sejatinya bukan emblem yang didapat dari berapa banyak atau seberapa mewah atribut bernuansa kebudayaan yang kita punya, melainkan mental untuk memajukan budaya itu sendiri yang dimiliki oleh tiap warga SMAN 5. (cay)
         

Selasa, 07 Februari 2012

On-the-Road Perdana Joer-V \('O')/

          SS Joer-V memiliki agenda baru, yakni On-the-Road Joer-V. Kegiatan ini akan rutin diadakan secara bulanan dan sudah dimulai sejak Februari 2012. Acara ini diisi dengan menggowes bersama baik oleh para Smalapers maupun  non-Smalapers mengitari Surabaya serta dibarengi dengan mencari berita, kemudian diakhiri dengan wisata kuliner. Tujuannya, selain  mengurangi polusi  dan berolahraga bersama (dengan menggowes ria), para Smalapers juga dapat berlatih mencari berita di lapangan.
          On-the-Road perdana diadakan kemarin Sabtu (4/2). Namun sayangnya,  hanya 4 orang yang berpartisipasi dalam kegiatan ini, dan seluruhnya adalah anggota Joer-V. Banyak anggota Joer-V baik angkatan kelas X maupun angkatan kelas XI yang tidak dapat hadir. "Hari ini banyak yang nggak bisa datang, ya," ucap Vina Auditia. Banyak yang berhalangan hadir karena rumah jauh, tidak memiliki sepeda, dan memiliki acara lain. Namun, ada juga yang mengaku tidak tahu. "Aduh, sayang banget. Padahal aku bisa ikut, tapi malah nggak dikasih tahu," begitu tutur Tiara Perdana Sari begitu ditanya alasannya.
          On-the-Road Perdana Joer-V memang tetap berjalan lancar. namun acara yang seharusnya dimulai pukul 06.00 WIB tersebut malah molor dari jadwal karena para penggowes yang sudah siap di Smala masih menunggu penggowes lain yang tak kunjung datang. Akhirnya, tanpa menunggu lagi, pukul 07.00 WIB para penggowes Joer-V segera berangkat dari Smala dengan rute Smala-Tugu Pahlawan. Berhubung sudah molor dari jadwal, jalanan sudah mulai dipadati pengendara bermotor walaupun belum sampai macet. Kendala seperti nyasar juga sempat terjadi, tapi para penggowes tetap mbonek.
           Sesampainya di depan Tugu Pahlawan, para penggowes beristirahat sambil mengamati situs sejarah di sana, yakni sebuah gedung dimana dulunya Presiden Soekarno menolak ultimatum pihak Belanda.


           Sembari beristirahat, nampak juga pemandangan yang epik seperti Tugu Pahlawan yang tegap berdiri di sebelah Bank Indonesia, lengkap dengan kendaraan berlalu-lalang di depannya.
 


           Seusai beristirahat, para penggowes kembali turun ke jalan. Namun sebelum kembali ke Smala, para penggowes memilih untuk berwisata kuliner terlebih dahulu. Pilihan jatuh pada Sate Klopo Ondomohen Bu Asih, Jalan Walikota Mustajab. Tempat makan yang terkenal karena kenikmatan menuya ini sudah penuh sesak dipadati pengunjung walaupun hari masih pagi. Tak heran, kenikmatan sate klopo Bu Asih memang sudah melegenda mulai dari rakyat biasa sampai pejabat-pejabat tinggi.


           Meskipun On-the-Road Perdana Joer-V kali ini hanya dihadiri 4 orang, semoga OTR tetap menjadi rutin diadakan  di bulan-bulan selanjutnya dan disukseskan oleh lebih banyak lagi Smalapers dan non-Smalapers. OTR Perdana bulan ini sudah lumayan untuk memulai program yang baru.(dia)

Sabtu, 04 Februari 2012

Gallery Photo: Smalapress On The Road Perdana

Yah, meski cuma 4 orang, gapapa lah sudah lumayan untuk sebuah awalan dari program baru.
Semoga OTR bulan Maret banyak yang ikut. Ohya Non-smalapers juga boleh join kok^^

Ngoyo, amarga kesasar.

That's epic.

Ironi.

Sarapan di Sate Kelapa Ondomohen.