Selasa, 15 Mei 2012

Kesalahan Bagian Dari Seni


               Berjalan di koridor kelas 11 SMAN 5 Surabaya, kita pasti akan melihat satu atau dua meja yang sengaja ditempatkan di luar setiap kelas. Di atasnya, terdapat bermacam-macam karya seni hasil kerja murid kelas 11. Ada ukiran yang terbuat dari silikon, atau mug indah berlukiskan motif-motif cantik dengan warna beragam.



INDAH: Beberapa hasil karya seni dari silikon oleh kelas 11 (tir)

                Karya seni yang dipamerkan itu bukan hanya hasil kerja murid kelas 11, namun juga merupakan inisiatif Muhammad Helmi Al Amri, guru seni rupa kelas 11. “Tulis saja Pak Al Amri, pasti se-Smala tau,” ujar Pak Amri terkekeh. Berasal dari keluarga seniman, tidak heran jika bakat seni mengalir dalam diri beliau. Beliau menyalurkan kecintaannya pada seni dengan cara mengajar.
Mengajak muridnya untuk membuat karya seni lalu dipamerkan di luar kelas memang merupakan inisiatif dari guru yang telah mengajar sejak tahun 1990-an itu. Menurut beliau, seni ada untuk diapresiasi. Merupakan suatu kebanggaan tersendiri jika orang lain dapat melihat hasil karya seni yang telah dibuat. “Jadi murid saya nggak hanya membuat karya seni lalu dibawa pulang, tapi dipamerkan. Supaya orang dapat melihat dan menilai.”

UNIK: Hasil karya seni kelas 11 yang bermacam-macam bentuknya (tir)

Pak Amri juga memuji kepandaian murid-muridnya yang dapat dengan cepat mempraktikkan apa yang telah diajarkannya sehingga menghasilkan karya seni yang sekarang dipamerkan di luar kelas mereka. “Memang ada yang hanya mengejar nilai, tapi nggak papa. Kan nggak semua anak tertarik pada seni,” ucapnya.
Guru yang sedang berulang tahun ini terkadang memberikan materi pelajaran yang berbeda-beda setiap tahunnya. Beliau memberikan tugas sesuai dengan kemauan dan kemampuan siswa sehingga siswa dapat dengan enjoy mengerjakannya. Beliau berharap ke depannya Smalane dapat lebih mampu mengembangkan kreativitasnya dalam berseni.
 Beliau juga berpendapat bahwa cara mengajar guru seni jaman sekarang harus diperbaiki. Terkadang ada guru yang menyalahkan muridnya sehingga membuat murid itu merasa tidak dihargai hasil karyanya. “Dalam seni, nggak ada yang namanya salah. Kesalahan itu bagian dari keindahan,” ujar guru lulusan IKIP Malang jurusan Seni rupa ini, sambil tersenyum. (ars/nla)

Senin, 14 Mei 2012

Kotak Sosial Smala


Beberapa kotak sosial (dsp)
Perasaan ingin untuk berbagi dengan sesama pasti sudah ada di dalam jati diri insan manusia yang beriman. Apalagi para Smalane yang suci dalam pikiran, benar jika berkata, dan tepat dalam tindakan, sesuai yang ada di Mars Smalane sendiri. Nah, yang perlu ditanyakan, bagaimanakah para Smalane ini berbagi?
Untuk inilah hasil dari kotak sosial (dsp)
Jawabannya sudah ada dengan terbentuknya Tim Sosial atau anggota dari Sekbid II OSIS SMAN 5 Surabaya. Dari namanya saja sudah jelas, tim ini memang hobinya melakukan kegiatan yang berbau sosial. Seperti halnya sumbangan, donatur, infaq dan lain sebagainya. Mungkin keberadaan Tim Sosial ini sudah tak asing lagi di wajah-wajah para Smalane, karena memang mereka semua ini rajin sekali datang ke tiap-tiap kelas untuk menitipkan sebuah kotak infaq yang nantinya oleh para Smalane sendiri diisi dengan sejumlah uang yang pastinya dengan sukarela. SSSelema dua bulan sekali, tepatnya pada minggu kedua dan keempat, kotak Timsos selalu bercengkrama di tiap-tiap kelas menunggu jari-jari kecil yang mulia menabung amal melalui sumbangannya untuk akhirat nanti. Dampaknya berpengaruh bersar lho, kawan. Bagi mereka yang awalnya enggan karena jarang melakukan hal ini, lama-lama akan mulai tertarik untuk menyisipkan sebagian uang sakunya ke dalam kotak sosial ini. Dan hasil yang diperoleh dari pengumpulan kotak sosial ini, kabarnya akan disalurkan pada pihak yang memang membutuhkannya, ujar ketua Sekbid II, Rizki Nugraha (X-9)
Maka dari itu, sekedar info saja bagi para Smalane yang ingin terus dan terus beramal, bisa berupa apa saja kok. Barang bekas yang bisa di daur ulang, buku bekas yang sudah tak terpakai atau mungkin baju-bajunya yang waktu kecil sudah kekecilan, monggo dititipkan pada Tim Sosial agar bisa diberikan pada mereka yang memang membutuhkan uluran tangan dari kita. Jika bukan kita yang bertindak, siapa lagi? (chr/dnf)
Smalane pun semangat untuk mengisi kotak sosial (dsp)

Sabtu, 12 Mei 2012

Kami Pemimpin Bangsa



Siapkah kalian menjadi pemimpin bangsa? (ela)


“Kalian adalah pemimpin bangsa! Kalian adalah pemimpin peradaban!”
Tak asing dengan kalimat ini? Ya, kita sendiri sudah acap kali mendengarnya di lingkup Smala. Tak hanya sebatas di Perisai, namun juga dalam keseharian kita. Guru, kakak kelas, sesama teman, berbagai elemen Smala selalu mengingatkan kita akan hal ini. Bahkan Kita benar-benar diberi pemahaman agar kelak tak hanya menjadi pemimpin bangsa namun juga menjadi pemimpin peradaban.
Lantas, seperti apa sih pribadi pemimpin bangsa? Sebenarnya, tidak ada penggambaran khusus dan pasti tentang itu, tapi beruntung dari awal kita sudah mengetahuinya. Smalane, masih ingat ‘lagu kebangsaan’ kita?

Kami pemimpin bangsa tak kenal kata menyerah
Walaupun lelah, letih melanda
Badan ditegakkan, lihat lurus ke depan
Dengan semangat baja
Jangan hiraukan tipu daya kemalasan
Pikiran jernih, hatipun suci
Dengan petunjuk Tuhan yang Maha Pengasih
Meraih terus... Prestasi! Prestasi!

Sebagai Smalane, tentu kita sudah akrab sekali dengan lagu yang satu ini. Tak hanya sering mendengarkan, bahkan kita sendiri juga sering menyanyikannya, sebagaimana kita menyanyikan Mars Smalane. Lagu ini lah yang membakar semangat kita untuk maju. Maka dari itu, mari kita telaah makna lagu KPB...
Jika kita telaah, sudah jelas dituturkan bahwa pemimpin bangsa itu tak kenal yang namanya pesimis dan putus asa. Pemimpin bangsa tetap berusaha dan selalu optimis. Pemimpin bangsa harus bisa mendisiplinkan diri agar tidak berhenti berusaha dan terlena karena kemudahan. Pemimpin bangsa percaya dengan kuasa Tuhan yang Maha Esa. Dan... pemimpin bangsa terus meraih prestasi. Selain itu, masih banyak lagi pribadi pemimpin bangsa dalam lagu ini yang tak bisa dituliskan satu-persatu.
Selain makna-makna tadi, mari kita cari makna lain yang tersirat. Jika kita lihat lirik KPB, tidak ada kata ‘aku’ melainkan ‘kami’. Di sini, kita diperingatkan bahwa kita bersama-sama dengan yang lain, tidak sendirian. Smalane tak mungkin berdiri sendiri tanpa saling bahu-membahu untuk menjadi pemimpin bangsa, sehingga mengingatkan kita untuk menghindari sifat apatis. Kemudian, jika dilihat lagi, di lirik KPB tidak ada kata ‘mungkin’ namun tidak ada juga kata ‘harus’. Di sini kita tidak boleh ragu dalam jalan kita, namun kita juga tidak semerta-merta dipaksakan atau ditekan untuk menjadi pemimpin bangsa. Sudah sepatutnya kita mengetahui hak dan kewajiban kita sebagai generasi muda, yakni menjadi pemimpin yang berguna dan membanggakan bangsa. Secara keseluruhan, lagu ini sudah mencerminkan pribadi pemimpin bangsa yang diharapkan Smala.
Nah... Setelah membahas lagu KPB, sekarang kita tanya pada para Smalane. Apakah para Smalane benar-benar menangkap makna dalam lagu KPB? Apakah para Smalane sudah menerapkan jiwa pemimpin peradaban? Atau malah merasa lagu ini tidak melekat pada figur Smalane yang diharapkan menjadi pemimpin peradaban?
Bianda Retno, siswi kelas XI-IS, memiliki pandangannya sendiri tentang lagu KPB. Lagu ini dimaknainya sebagai semangat untuk tidak cepat menyerah. “Pemimpin kan tidak boleh cepat menyerah. Jadi tiap aku capek, terus ndengerin lagu itu, bisa jadi semangat lagi,” ujarnya. Selain itu, ia juga mengomentari notasi lagu KPB yang sederhana dan unik. “KPB itu nadanya lucu,” celetuknya.
Lain Bianda, lain lagi Priskila Kurniandini. Ia benar-benar menganggap lagu KPB ini lagu pembakar semangat. “Lagu KPB itu keren dan maknanya dalem banget. Buat orang yang mengerti maknanya pasti sangat meresapi dalam hati,” tuturnya. “Lagu KPB memang benar-benar motivasi Smalane untuk menjadi lebih baik. Apalagi angkatan kita ini angkatan spesial. Angkatan kita sudah diharapkan untuk menjadi pemimpin peradaban, dan lagu ini semakin memacu kita untuk mewujudkan harapan-harapan besar Smala pada kita,” pungkas penghuni kelas X-3 ini
Terus... Bagaimana tentang penerapannya?
“Para Smalane tahu lagu KPB itu maknanya bagus tapi terkadang mereka kurang sadar. Andaikan semua Smalane bisa menerapkan makna yang mereka dapat dari KPB, pasti luar biasa. Kita kan juga ngerasain seluar biasa apa nyanyiin lagu KPB sendiri,” tutur Rahma Aziza dari kelas XI IA-9, “Aku sendiri terkadang merasa kurang menerapkan makna KPB saat semangatku down,”
“Lagu KPB itu liriknya benar-benar mengena dan bisa bikin semangat dalam menjalankan tugas-tugas sebagai Smalane,” ungkap Nabilah Hanifah Mukti, “Tapi emang susah buat menjadi figur seideal gambaran di Lagu KPB,” tambah siswi kelas X-3 ini.
Wah... Ternyata mereka sudah menyadari dalamnya makna lagu KPB dan berusaha menerapkannya dalam figur Smalane. Merasa Smalane? Jangan sebatas menyanyikan lagu ini saja, tapi resapi dan terapkan makna di dalamnya. Apakah kalian sudah berusaha menerapkannya dalam pribadi masing-masing? Atau KPB ini hanya sekedar formalitas sebagai Smalane? Hanya kalian yang tahu jawabannya. Semangat! (dia/ram)

Jumat, 11 Mei 2012

Apa Kabar Kelas Intensif Bahasa Jerman?


Pernah mendengar mengenai Kelas Intensif jerman? Ya, kelas intensif bahasa Jerman yang sudah berdiri sejak tahun 2009 ini diadakan karena SMAN 5 Surabaya merupakan salah satu dari tiga sekolah menengah atas di Jawa Timur yang mendapatkan predikat partner schüle atau sister school dengan Goethe Institute(Jerman).
           
            Smalane yang memilih kelas bahasa Jerman dapat mengikuti kelas intensif ini secara cuma-cuma. Pada awalnya, animo dari Smalane sangat luar biasa. Namun, lambat laun kelas ini mulai sepi peminat. Hal ini pula yang diungkapkan oleh Bapak Feri Kuswanto, yang akrab dipanggil Herr Feri selaku pembimbing kelas intensif bahasa Jerman.

                        Proses pembelajaran di kelas intensif Bahasa Jerman oleh Herr Feri (ayr)
           
            “Awalnya memang banyak yang berminat terutama karena sertifikat dan beasiswa ke Jerman, tapi karena suatu hal ya mungkin mereka jadi tidak bisa mengikuti kelas ini lagi,” ujar pria berusia 25 tahun ini. “Banyak siswa yang mengikuti les, ekstrakurikuler, dan kepanitiaan yang mungkin lebih diprioritaskan dibanding kelas intensif  ini,” lanjutnya.

            Ya, kesibukan siswa baik kesibukan internal maupun eksternal adalah faktor yang membuat jumlah siswa kelas intensif bahasa Jerman mulai gugur satu persatu. Padahal, kelas yang dilaksanakan pada hari Senin sampai Jumat ini mengajarkan materi yang lebih express serta menggunakan metode pembelajaran yang lebih menarik dibandingkan metode pembelajaran di kelas. Seperti yang diungkapkan oleh Raden Dicky Johar Pribadi, salah satu siswa yang masih rutin mengikuti kelas intensif bahasa Jerman. “Metode pembelajarannya jauh lebih menarik, kita nggak cuma diajari teori tapi juga ada games, speaking, dan listening. Jadi kerasa lebih fun daripada di kelas,” ujar siswa kelas X-1 ini. Meskipun jumlah siswa yang hadir tidak menentu, SMAN 5 Surabaya selalu mampu mengirimkan 3 siswa-siswinya berangkat ke Jerman setiap tahunnya.       
                       
            Bila dilihat dari segi output, kelas intensif bahasa Jerman ini sangat bermanfaat bagi sekolah maupun siswa. Pihak sekolah mendapatkan keuntungan yaitu bertahannya predikat partner schüle, sedangkan siswa mendapat tambahan pelajaran dan sertifikat bila mengikuti ujian akhir bahasa Jerman yang diadakan langsung oleh Goethe Institute. Fadhila Nur Fajri, seorang siswa kelas XI Akselerasi mengaku bahwa tujuan utama mengikuti kelas intensif Jerman adalah untuk mendapatkan tambahan pelajaran, bukan hanya mengejar sertifikat dan beasiswa ke Jerman. “Ya aku merasa butuh aja, soalnya kalau cuma ikut pelajaran di kelas takut nggak bisa. Jadi nyoba ikutin intensif bahasa Jerman,” paparnya.
           
            Menurunnya minat Smalane inilah yang dikhawatirkan oleh guru-guru pembimbing kelas intensif bahasa Jerman. Karena jika jumlah peminat kelas intensif ini semakin menurun setiap tahunnya, maka predikat partner schüle akan dicabut oleh Goethe Institute. Jadi, Smalane yang telah berhenti mengikuti kelas intensif bahasa Jerman, berminat untuk kembali? (miw/acr) 

Kamis, 10 Mei 2012

Kepanitiaan; Miniatur Dunia Nyata di SMA


Pendidikan formal yang begitu disanjung-sanjung selama ini ternyata tidak sepenuhnya menjamin seseorang untuk memiliki kehidupan karir yang bagus, lho.
Kok bisa?
Seperti kita tahu, pendidikan di Indonesia selama ini hanya mengedepankan teori dan sedikit sekali memerhatikan aspek praktek di kehidupan nyata. Padahal menurut penelitian dari Universitas Harvard, kesuksesan seseorang ditentukan oleh 80% soft skill (kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain dan berorganisasi) sementara hard skill atau ilmu pendidikan formal hanya mendapat porsi 20% saja. Untuk itu, Smala menyediakan wadah bagi mereka yang ingin mengasah soft skill berupa adanya berbagai macam kepanitiaan.
                Di Smala, total ada 27 kepanitiaan dari skala lokal (khusus untuk Smalane saja) hingga provinsi yang diadakan rutin setiap tahunnya. Maka itu tak heran jika di Smala budaya untuk terlibat dalam kepanitiaan begitu mengakar erat. Bahkan tiap ada kepanitiaan, para Smalane seakan berlomba-lomba untuk terlibat di dalamnya karena bagi sebagian siswa, kepanitiaan ibarat miniatur dunia nyata untuk menjadi ajang pembuktian kualitas diri. Tradisi liqo’ atau rapat dengan cara duduk di lantai dan membentuk lingkaran juga semakin menguatkan bahwa Smala memiliki ciri khas kepanitiaan yang jarang ada di sekolah lain. Tetapi selain untuk mengisi waktu luang, apa saja sih manfaat dari mengikuti kepanitiaan?
                


RAMAI: Para siswa kelas X sedang berkumpul saat istirahat. (als)



SERIUS: Suasana diskusi (liqo') panitia Senyuman 2012. (als)


Dalam suatu kepanitiaan selalu ada Badan Pengurus Harian (BPH) yang biasanya terdiri dari ketua, wakil, sekretaris, bendahara, pengawas, serta koordinator divisi. Bila kita menjadi salah satu dari BPH tersebut, kita mendapat wewenang dan amanah lebih untuk mengatur anggota-anggota di bawah kita sehingga tanggung jawabnya pun lebih besar pula. Apalagi jika kita adalah ketuanya, maka kita bertanggung jawab penuh atas keberhasilan maupun kegagalan kepanitiaan tersebut. Dan disinilah kemampuan kepemimpinan kita diuji. Seorang pemimpin harus mampu mengendalikan dan memahami seluruh anggotanya serta membuat keputusan yang tepat dalam situasi apapun.
                Meski begitu, anggota atau panitia lain selain BPH jangan dianggap remeh, karena ibaratnya mereka adalah ‘mesin’ yang menggerakkan suatu kepanitiaan. Dibawah naungan koordinator divisi, para panitia bertugas menjalankan tugas yang diberikan sesuai dengan divisinya. Sekecil apapun suatu tugas, jika tidak diselesaikan maka kepanitiaan tersebut tidak akan berjalan dengan maksimal. Dengan menjadi panitia (di divisi apapun), kita belajar bekerja dalam tim, berkomunikasi dengan berbagai macam karakter orang, dan menjalankan tugas secara profesional.
                “Awalnya aku ikut kepanitiaan buat nambah pengalaman. Ternyata setelah ikut aku bisa kenal banyak orang, juga dapet ilmu-ilmu baru yang nggak diajari waktu pembelajaran biasa,” kata Tsana Nadhira Susanto yang hari Minggu, 6 Mei, kemarin bertugas sebagai panitia Acara Bahasa Indonesia S2LC. “Selain itu, kemampuan berorganisasi kan bisa dipakai di masa depan. Setelah ikut kepanitiaan aku juga jadi bisa ngatur waktu,” sambung Deshya Erdia.
               Di zaman sekarang, angka-angka di rapor bukan lagi satu-satunya penentu keberhasilan seseorang di masa mendatang. Bahkan perusahaan-perusahaan ternama pun saat ini lebih memilih orang-orang dengan kemampuan berorganisasi yang mumpuni dibandingkan dengan mereka yang hanya bermodalkan IP tinggi di bangku kuliah. Kebanyakan mereka yang hanya pintar secara akademis tanpa memerhatikan soft skill pada akhirnya hanya akan berakhir di golongan pengangguran terdidik yang kini mulai banyak ditemui di masyarakat. Fokus belajar sah-sah saja, tapi tetap harus diimbangi dengan soft skill yang baik pula karena penerapan ilmu-ilmu di ijazah kita tetaplah di dunia nyata yang dinamis, bukan di dunia yang melulu berkutat dengan nilai dan teori. (cay)

Rabu, 09 Mei 2012

Selangkah Lagi Menuju Play Off

Kemenangan kembali diraih tim basket putra SMA Negeri 5 Surabaya dalam pertandingan Honda Development Basketball League (DBL) 2012 East Java Series-North Region kemarin (8/5). Setelah berhasil menaklukkan SMA Petra 1 dengan skor 27-24 pada Opening Party Jumat lalu (4/5), tim basket Smala (sebutan untuk SMA Negeri 5 Surabaya) yang juga berhasil menang melawan SMA Negeri 1 Waru dengan skor 25-18, kini menempati posisi teratas pada klasemen sementara grup H Babak Utama Honda DBL 2012 East Java Series-North Region.
          
Skor pertama pada pertandingan melawan Smantaru (sebutan untuk SMA Negeri 1 Waru) kemarin (8/5) dicetak oleh Hafizh, guard tim basket Smala. Smala kemudian bermain dengan sangat baik dan berhasil mengakhiri kuarter pertama dengan skor 6-0 untuk Smala. Pada kuarter kedua, Smantaru berhasil menembus defend Smala dan mencetak satu poin melalui freethrow. Kuarter kedua pun berakhir dengan skor 11-1 dengan Smala tetap memimpin. 

Hafizh, guard tim basket Smala saat akan mencetak skor pertama (mfa)
Tim basket Smala terus unggul selama jalannya pertandingan, meskipun pada menit-menit terakhir di kuarter keempat, Smantaru sempat memperkecil ketertinggalan skor menjadi 12-20. Walaupun begitu, Smala tetap memimpin hingga peluit akhir dibunyikan dengan skor akhir 25-18. Dengan kemenangan itu, maka tim basket Smala tinggal selangkah lagi menuju babak play off.

Pertandingan yang menegangkan pada menit-menit terakhir kuarter keempat (mfa)
Namun, kemenangan tersebut diakui pelatih tim basket Smala, Alfian Rachmad, belum cukup maksimal. “Permainan kali ini kurang baik. Meskipun defend mereka sudah lumayan, namun banyak finishing yang tidak masuk. Mungkin ini karena meremehkan kesempatan yang ada sehingga kehilangan fokus dalam finishing.” ujar Alfian.

“Skor pertandingan ini seharusnya bisa lebih baik lagi.” ucap Madis Abiza,  asisten pelatih tim basket Smala, menyetujui. Dengan skor kemarin, goal average Smala masih berada di bawah SMA Petra 1. Smala masih harus memenangkan pertandingan Senin depan (14/5) melawan SMAN 1 Gresik untuk dapat lolos dari babak penyisihan grup menuju babak sweet sixteen. (tio/mir)

Selasa, 08 Mei 2012

Pakai Hati, Tak Pernah Sendiri


Kenong, bonang penerus, bonang barung, kempyang, dan kethuk. Ya, itulah seperangkat alat musik asli Indonesia yang digunakan untuk karawitan. Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar nada-nada khas musik karawitan di hari Sabtu atau sepulang sekolah. Siapa lagi yang pandai memainkan alat musik ini di Smala kalau bukan Smalane yang tergabung dalam SS Karawitan? Nah, simak hasil perbincangan kami dengan ketua SS Karawitan, Bianda XI IS, agar kita dapat lebih mengenal SS hebat yang telah membantu melestarikan budaya Indonesia ini.

Bianda saat diwawancarai di depan kelasnya, XI IS (tir)

SS Karawitan sudah ada dan berkembang di Smala sejak lama. Dulu jumlah anggota SS ini bisa dibilang sedikit karena antusiasme Smalane tidak terlalu besar. “Aku dulu ikut ini gara-gara waktu itu di-halo-halo-in sama masnya,” ujar Bianda saat ditanya soal niat awalnya berpartisipasi di SS ini. Walaupun mempunyai jumlah anggota yang sedikit, SS ini tetap rajin dan tekun latihan. Bersyukur, tahun ini jumlah anggota meningkat, apalagi semangat dari para anggota baru juga sangat besar karena merekalah yang selalu meminta agar latihan lebih rutin.
            Salah satu keuntungan yang diperoleh dari jumlah anggota yang sedikit di tahun-tahun yang lalu, SS ini tidak perlu mengadakan iuran! Wah, kenapa bisa begitu ya? “Anggotanya kan sedikit, jadi pengeluaran tidak terlalu besar. Dulu sempet ada iuran, tapi kebanyakan. Akhirnya iuran yang dulu itu bisa digunakan sampai sekarang," jawab Bianda.
Ketua SS beranggotakan 30 Smalane ini mengungkapkan keinginannya untuk menarik minat Smalane lainnya terhadap SS yang dinaunginya. Ia dan anggota SS Karawitan lainnya berusaha menarik animo Smalane melalui demo SS yang diadakan saat S2LC dan Perisai. Jika ada demo SS, Bianda dan kawan-kawan memaksimalkan jadwal latihan mereka yang mulanya hanya hari Sabtu menjadi setiap hari sepulang sekolah. Pak Puguh, pelatih SS Karawitan yang juga merupakan seorang guru SD terkadang tak bisa hadir dan akibatnya anggota SS Karawitan harus berlatih sendiri. Tapi menurut Bianda, hal itulah yang menjadi nilai istimewa dari SS Karawitan ini, selain tentunya Pendopo pribadi milik mereka yang dibangun oleh Pemprov Jawa Timur.

 Pendopo Karawitan yang dibangun oleh Pemprov Jawa Timur dan telah diresmikan pada 6 Maret 2012 oleh wakil walikota Surabaya, Bapak Bambang D. H. (tir)

Kuantitas memang penting, tapi kualitas juga tak kalah penting. Begitulah harapan Bianda terhadap SS Karawitan di tahun-tahun mendatang, tetap aktif dengan jumlah anggota yang semakin banyak, namun juga tak melupakan kualitas. Menurutnya, masih banyak anggota kelas 10 yang belum mampu bermain musik dengan hati. Padahal, karawitan memerlukan kepekaan dan tingkat fokus yang tinggi. Seorang pemain kenong harus bermain dengan pemain bonang penerus, bonang barung, kempyang, dan kethuk. Jadi pada intinya, tak ada yang namanya bermain sendiri dalam karawitan. Semua harus bermain bersama agar menciptakan alunan musik yang indah, dan bukannya asal-asalan. (nlv/ars)