Sabtu, 26 Mei 2012

Hari demi Hari Menuju UAS


DEMI UAS: Seorang Smalane sibuk mencari jawaban soal P3A (ram)

Ulangan Akhir Semester (UAS) hanya tinggal menghitung hari. Tantangan UAS ini cukup berat bagi Smalane, karena materi yang diakumulasi dari semester pertama hingga akhir, Standar Kelulusan Minimal yang dinilai cukup tinggi, serta bertepatan dengan penjurusan bagi kelas X. Apakah Smalane sudah siap menghadapi tantangan UAS kali ini? Lalu apa saja yang perlu disiapkan?
Tidak semua Smalane siap menghadapi ulangan yang menentukan kenaikan kelas ini. Dari 10 Smalane yang diambil secara acak, 7 menyatakan optimis berhasil dalam UAS ini. Salah satunya, Priskila Kurniandini dari kelas X-3. Siswi yang akrab disapa Kiki ini mengaku sudah cukup menguasai materi. “Sudah lumayan, sih, materi yang dikuasai,” ujarnya. Tidak hanya optimis, ia juga memiliki target tersendiri untuk hal ini. Ia menargetkan untuk memperoleh nilai minimal 85 untuk setiap mata pelajaran. “Nilainya minimal 85. Terus juga pengen nggak remidi, terutama di pelajaran IPA,” ucapnya. Ia mengaku dituntut untuk masuk ke jurusan IPA.
Nah, jika 7 dari 10 Smalane optimis akan berhasil dalam UAS, mengapa masih ada yang pesimis? Sudah banyak materi yang diberikan di sekolah, berbagai latihan soal, program P3A dan muatan lokal. Apa fasilitas ini dinilai masih kurang untuk menyiapkan diri? Atau tidak tahu bagaimana cara yang efektif untuk belajar?
Dedy Aria Aditia dari XI IA 5 mempunyai kiat-kiat tersendiri untuk menghadapi UAS kali ini. “Belajar jauh-jauh hari, usahakan mengulang kembali materi dari bab awal hingga akhir. Jika masih ada yang belum jelas, segera tanya ke guru yang bersangkutan, kapanpun dan di manapun,” tuturnya. Ia juga menyarankan untuk membuat rangkuman materi bila diperlukan, serta mengerjakan soal-soal yang pernah keluar tahun lalu. Selain itu, berdoa juga merupakan hal yang penting. “Dan terakhir berdoa, perbanyak ibadah, minta restu ke orang tua. Insya Allah itu cukup,” tulisnya.
Gimana, Smalane? Masih pesimis untuk menghadapi UAS? UAS itu mudah, kok! Tinggal bagaimana cara kita mengatur waktu, menyusun trik belajar, menyiapkan mental, dan berdoa. Jika yang lain sudah optimis, mengapa masih ada yang pesimis? Toh, kita sudah pernah mengalami UAS berkali-kali sebelumnya. Yang penting, kuatkan motivasi kita dan tetap semangat! (ram/dia)

Jumat, 25 Mei 2012

Pelajaran Bahasa di Mata Si Kembar, Dini dan Dina


Si kembar Dina dan Dini kelas XI- aksel. (ayr)
                        “Pelajaran bahasa ini adalah pengalaman baru yang berharga.” ujar Sang kakak, Adinda Ayu Dyah Rahadini atau Dini, saat ditanya mengenai perasaannya kala menjumpai pelajaran bahasa di SMA Negeri 5 Surabaya. Tak berbeda dengan kakaknya, Adinda Ayu Dyah Rahadina atau Dina, juga merasa hal yang sama. Si kembar asal Jember ini menjadi siswa di SMA Negeri 5 Surabaya sejak November 2011 dan kini berada di kelas XI Akselerasi. Pada awal registrasi siswa pindahan, mereka dihadapkan pada tiga pilihan bahasa, Jerman, Jepang, dan Mandarin. Keduanya dengan mantap memilih Jerman. “Sejak awal memang sebenarnya sudah tertarik ke Jerman, nggak tau kenapa.” jelas Sang adik yang biasa disapa Dina.
                        Jika saat ini banyak siswa kelas X yang minatnya mulai berkurang dalam mengikuti pembelajaran pelajaran bahasa, hal ini sangat berbeda dengan anggapan Dini dan Dina, mereka sangat excited dan menganggap penting pelajaran tersebut. Berbagai upaya pun dilakukan agar bisa mengikuti pelajaran bahasa dengan baik. “Ya karena kami masuk Smala ini waktu pelajarannya uda di tengah-tengah, kami berusaha memahami sendiri. Tapi karena nggak mudeng-mudeng akhirnya kami les di bimbingan Bahasa Jerman. Biar lebih mudah dan ngejar ketertinggalan kami.” jelas Dini.
                        Menurut mereka, ada aspek yang perlu dibenahi dalam pembelajaran pelajaran bahasa di SMA Negeri 5 Surabaya yaitu cara pembelajaran yang digunakan. “Disekolah memang mudeng, tapi cuma sedikit. Kalau di les-les-an itu lebih enak. Ada speaking writing, sama listening gitu. Jadi lebih menyenangkan.” papar Dina. mereka berharap agar ada inovasi-inovasi baru yang lebih variatif agar proses pembelajaran terasa lebih menyenangkan. Walaupun cara pembelajaran di sekolah tidak semenarik di tempat les mereka, mereka tetap mengapresiasi penuh pelajaran bahasa di Smala dan tidak pernah menyesal mendapatkan pelajaran bahasa.
                        Selain minat yang berkurang, banyak dari siswa kelas X yang ingin pindah dari pelajaran bahasanya. Hal ini disebabkan karena ada bahasa lain yang dianggap lebih menarik dibanding bahasa yang sedang dipelajari kini. Namun, dimata kembar identik ini, bahasa yang dipilih mereka sudah tepat dan mereka yakin bahwa pelajaran bahasa ini kedepannya pasti akan berguna bagi kehidupan mereka. Saran dari Dina dan Dini bagi SMA Negeri 5 Surabaya terutama dalam berlangsungnya pelajaran bahasa adalah dengan ditambahnya inovasi-inovasi baru yang bisa ditambahkan dalam proses pembelajaran pelajaran bahasa agar siswa tidak merasa jenuh dan bosan. Selain itu, diharapkan guru pengajar lebih friendly terhadap muridnya dan hendaknya sebagai murid, kita mencintai pelajaran tersebut agar mampu memelajarinya dengan baik. “Percayalah pasti suatu saat nanti ilmu bahasa ini akan ada gunanya.” ucap Dini diikuti anggukan kecil sang adik. (miw/acr)

Kamis, 24 Mei 2012

Education? Should've Been Fun!

Sepasang remaja tampak akrab satu sama lain, seolah meniadakan fakta bahwa tempat ini bukanlah daerah asal mereka. Kombinasi warna kulit yang kontras—yang satu pucat dengan bintik-bintik khas ras Kaukasia dan satunya lagi gelap cenderung sawo matang—tak membuat mereka risih ataupun canggung. Brooke dan Kelly, salah dua dari belasan peserta pertukaran pelajar dari Tranby College yang sejak seminggu kemarin mengikuti pembelajaran di SMAN 5 Surabaya kini berbagi kisah dan isi kepala mereka mengenai apa yang selama ini belum terlintas di pikiran kita mengenai pendidikan di Indonesia.

What motivates or encourages you to have an experience here?
Kelly: “I just love to learn the language.”
Brooke: “I love learning cultures, and I just want to have new experiences. It’s nice to visit Indonesia, anyway.”

What’s the biggest difference between education here and in Australia?
Kelly: “The subject, I think. In Australia we only have 6 subjects and we’re really focused on it while you have too many subjects that you have to learn. And the time you spend at school is too long that it'll bore the students. Learning should've been fun for us, right?”

What’s the difference between Indonesia’s students and Australia’s?
Brooke: “The responsibility of the students. Every student works very hard in doing their tasks but it seems like they don’t really enjoy it. The teachers also expect too much from their students.”

What do you enjoy the most while you’re in Smala?
Kelly & Brooke: “The people; they all are really nice and friendly. The canteen and the library are also very good.”

The last question; if you had a chance to meet our Minister of Education, what would you say to him?
Brooke: “I’d suggest him to start school not this early. It’d be nice to start at 7.30 or 8 o’clock, maybe. So the students will have more time to finish the homework and have more social life.”

                Dari perbincangan dengan dua pelajar Australia ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa sistem pendidikan di Indonesia yang mengedepankan kuantitas subjek pembelajaran masih lebih diutamakan daripada kualitas pembelajaran itu sendiri. Sangat disayangkan memang, padahal sumber daya manusia di Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan negara-negara Eropa atau Amerika. Hanya saja, kita kurang fokus dalam mempelajari hal-hal yang sesuai dengan minat kita sehingga kemampuan kita tidak bisa berkembang secara maksimal. Semoga dengan melihat sisi lain pendidikan dari sudut pandang yang berbeda ini, kita mampu memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia di masa depan.
                Dan sebelum mereka bertolak kembali ke Australia, inilah kegiatan terakhir mereka di Smala yang khusus diadakan oleh Pararela. Such a good time with you all, Tranbiers! (cay)

ANTUSIAS : Brooke (tengah) dan Kelly (kanan) saat belajar medis dengan Pararela (als)

AKRAB : Foto bersama, kolaborasi siswa Tranby College dan SMAN 5 Surabaya (als)

MENARIK : Siswa Tranby College saat diajak bermain kereta buta (als)

Rabu, 23 Mei 2012

Tak Kenal Kata Menyerah


Walaupun jalan mulus tak selalu dilalui tim basket Smala, tekad mereka untuk meraih juara pertama Honda Development Basketball League (DBL) 2012 East Java Series - North Region tak main-main lagi. Senin kemarin (21/5) para pemain tengah melakukan research terhadap tim lawan yang akan mereka hadapi di babak sweet sixteen yang akan datang.
            “Research dapat membantu kami dalam menentukan kelemahan dan kelebihan lawan, serta sebagai bahan pertimbangan strategi apa yang akan kami lakukan untuk memenangkan pertandingan.” ujar Alfian Rachmat selaku head coach SMAN 5 Surabaya.
Selain melakukan research, para pemain juga berlatih secara rutin dua kali seminggu setiap hari Rabu dan Sabtu. Itu pun belum termasuk hari-hari latihan tambahan, yaitu hari Selasa, Jumat, dan Minggu. Mereka juga menjaga kesehatan dan kondisi tubuh dengan baik melalui istirahat yang cukup dan tidak minum es atau makan makanan pedas.
Tim basket Smala yang sedang melakukan latihan rutin (mfa)
Ujian Akhir Sekolah yang tinggal menghitung hari tak menjadi pantangan bagi mereka. “Kalau aku sih yang penting harus tau prioritas dan harus bisa fokus. Contohnya kalau lagi belajar ya fokus sama pelajaran, kalau lagi latihan ya fokus basket dulu. Semuanya dibuat enjoy aja.” ujar Veikha Fakhriya X-5 yang merupakan guard tim basket putri Smala.
            Meski banyak pantangan menghadang, termasuk jadwal bertanding di DBL yang kemungkinan besar akan bertabrakan dengan jadwal UAS, tak membuat mereka patah arang sedikitpun. Hal ini memang sangat cocok dengan kepribadian seorang Smalane, selalu bekerja keras dan tak mau setengah-setengah. (mir/tio)

                

Selasa, 22 Mei 2012

Apresiasi Seni Lewat Galeri

Lukisan, nirmana, poster, dan gelas-gelas hias adalah beberapa barang yang sering kita lihat di ruangan ini. Tempat ini menjadi salah satu penghubung antara sisi Smala bagian selatan dengan bagian utara. Ya, galeri kesenian. Lalu bagaimana awal munculnya galeri kesenian ini?
            Pak Kushardiman selaku guru kesenian di Smala mengungkapkan bahwa dulunya galeri kesenian ini adalah ruang keuangan. Karena belum memiliki tempat untuk memamerkan karya seni siswa, Pak Suhariono, yang sebelumnya merupakan kepala SMAN 5 Surabaya, memutuskan untuk mengalih fungsikan ruang keuangan sebagai galeri kesenian.


Pak Kushardiman saat ditemui di pendopo kecil (22/5) (tir)
            “Sekitar satu atau dua tahun yang lalu,” ujar Pak Kus saat ditanya mengenai waktu diubahnya ruang keuangan menjadi galeri kesenian.
            Tujuan dibuatnya galeri ini tentunya adalah untuk memamerkan hasil karya seni siswa sehingga dapat diapresiasi, namun ternyata tidak semua hasil karya dapat dipamerkan di ruangan ini. Hanya yang mendapat nilai di atas 90 yang dipamerkan di sana.
            “Sebelum rapotan rencananya akan diseleksi mana yang akan dipamerkan dan mana yang akan dikembalikan kepada siswa untuk dibawa pulang,” ungkap Pak Kus.
            Guru yang mulai mengajar pada tahun 2008 ini, berharap akan adanya bantuan dari pemerintah untuk membangun galeri yang tertutup sehingga hasil karya dapat terjaga dengan baik. Selain itu Pak Kus juga berharap agar galeri tersebut dapat menyimpan hasil karya seni digital.
            “Saya sering memamerkan video iklan karya kelas 10 yang berdurasi 1,5 menit pada saat MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Seni. Makanya kalau ada karya seni digital yang dipamerkan di galeri kesenian pasti akan lebih menarik,” saran Pak Kus.
            Pak Kus dengan bangga mengungkapkan bahwa Smalane tidak hanya antusias dalam pelajaran seni dari sekolah namun juga ekstrakurikuler seperti PSGS dan Tetris. “Tidak hanya image eksak, di dunia seni juga tidak boleh kalah,” tutur Pak Kus mengakhiri pembicaraan kami (Tim Joer-V) siang itu (22/5). (ars/nla)

Sunat Boy Siap Meriahkan SENYUMAN 2012


Smala terkenal dengan berbagai kegiatan dan kepanitiaan yang dan diurus oleh siswanya sendiri. Setiap kegiatan diadakan dengan berbagai tujuan yang berbeda. Nah, baru-baru ada satu lagi kepanitiaan di Smala yang tertunya membuat beberapa siswa yang merupakan pengurus kepanitiaan tersebut menjadi lebih sibuk. Nama kegiatan tersebut adalah SENYUMAN 2012.
Apakah SENYUMAN itu? SENYUMAN sendiri merupakan singkatan dari Senangnya Umat Berkhitan, yaitu acara khitanan massal yang diadakan oleh SMAN 5 Surabaya. Tentu saja, kegiatan yang berlandaskan sosial ini dimotori oleh Sekbid II OSIS SMAN 5 Surabaya yang tergabung dalam Tim Sosial. Setelah mematangkan konsep acara, Timsos segera open recruitment untuk menentukan panitia SENYUMAN. Yang membedakan dari kepanitiaan lain sebelumnya, panitia SENYUMAN dikhususkan untuk siswa kelas X saja.
Acara yang rencananya diadakan tanggal 1 Juli mendatang ini bertujuan untuk membantu sesama. “Selain itu dengan adanya kegiatan ini, pasti bisa menumbuhkan hasrat untuk berbuat baik. Kan sekarang ini semaikin jarang diadakan kegiatan sosial,” ujar ketua panitia SENYUMAN 2012, Rizki Nugraha dari kelas X-9. SENYUMAN 2012 menargetkan 100 pendaftar yang diutamakan untuk anak yatim piatu dan anak dari keluarga kurang mampu.
Ada yang membedakan SENYUMAN tahun ini dengan tahun lalu. Di tahun ini, panitia mebuat inovasi dengan memunculkan Sunat  Boy. Mungkin banyak dari kalian yang bertanya-tanya apakah Sunat Boy itu? Jadi, pada hari H acara akan ada 1 panitia yang menggunakan sarung dengan kaos, serta memakai penutup kepala atau helm seperti yang biasa dikenakan oleh badut. Penutup kepala itu bukan penutup kepala biasa, melainkan merupakan imitasi dari emote tersenyum. Sunat Boy seperti menjelaskan bahwa khitan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, seperti kebanyakan mindset anak-anak saat ini. Bahkan tak jarang mereka menangis sebelum dikhitan. Dengan adanya tokoh tersebut, diharapkan dapat mengurangi rasa takut tersebut.
 Ditanya mengenai hambatan dalam mengadakan acara ini, Rizki menyatakan hambatannya adalah respon dan pertimbangan masyarakat. Memang ketika sosialisasi masyarakat memperlihatkan animo dan minat yang tinggi pada SENYUMAN. Tapi tentu saja banyak juga dari mereka yang tidak langsung mendaftar. mereka masih mempertimbangkan izin dari suami, anak, dan berbagai alasan lainnya. Bahkan ada juga yang malas mendaftar ke SMAN 5. “Nah ini jadi tugas buat Humas, bagaimana  masyarakat mendapat info yang sejelas-jelasnya, agar gak ada miss komunikasi dan mereka antusias buat daftar,” ujar Rizki
Suksesnya sebuah acara tentu saja tergantung pada panitia yang menyelenggarakannya. Tapi sebagai Smalane yang baik tidak ada salahnya bagi kita semua untuk membatu mensosialisasikan SENYUMAN 2012 kepada masyarakat agar mendapat peminat yang tinggi. (dnf, chr)


Rakor BPH SENYUMAN 2012 (dsp)


Logo SENYUMAN 2012. (dsp)