Kamis, 31 Mei 2012

Jujur Redupkan Reputasi?

Sabtu 26 Mei kemarin hasil UNAS SMA serentak diumumkan di seluruh nusantara. Bisa ditebak, rasa syukur tak henti dilantunkan karena 100% Smalane kelas XII lulus dengan nilai yang memuaskan. Namun esok harinya, para Smalane mulai dari guru hingga murid-muridnya dibuat gerah. Penyebabnya, satu headline di sebuah surat kabar ternama di Indonesia ini cukup menohok sekolah-sekolah yang selama ini dikenal memiliki prestise yang tinggi, tak terkecuali SMAN 5 Surabaya; “Sekolah Reguler Kalahkan RSBI”. Ada apa?
Tahun ini, nilai UNAS tertinggi memang didominasi oleh sekolah reguler yang bahkan reputasinya saja jauh jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah RSBI. Namun fakta di lapangan berkata lain. Tak urung, para Smalane yang sudah menggelegak ubun-ubunnya pun tak sungkan mengatakan bahwa meskipun peringkat mereka bukan yang terbaik, setidaknya nilai itu didapatkan dengan cara yang jujur, murni berasal dari kerja keras dan kemampuan mereka.

INTENSIF : Potret siswa yang sedang mengerjakan latihan soal (als)

“Namun jika dicermati tiga tahun ini, SMAN 5 nyaris tak pernah berada lagi di peringkat 1.”

Sebaris kalimat dalam artikel surat kabar tersebut seolah menegaskan bahwa UNAS masih menjadi tolok ukur bagi pemerintah maupun media untuk menilai tingkat keberhasilan suatu sekolah. Yang menjadi kontroversi adalah apakah dengan adanya fakta bahwa menjauhnya Smala dari peringkat atas nilai UNAS menunjukkan kualitas Smala yang menurun pula?
“Kalau kita memang memiliki kemampuan yang maksimal, kita pasti bisa membuktikan bahwa bocoran sehebat apapun tidak akan menggoyahkan reputasi kita sebagai sekolah terbaik. Nyatanya meskipun kita jujur, toh mau tidak mau kita harus mengakui bahwa kemampuan kita yang jujur itu terbukti masih di bawah mereka yang tidak jujur,” – Bu Mei (Rabu, 30 Mei 2012; saat pembelajaran Geografi di X-2)
Pendidikan dan media boleh jadi saling tutup-menutupi, berlomba menyorotkan lampu spotlight pada satu objek yang sedang layak tonton sementara banyaknya cacat proses belajar-mengajar yang lain disembunyikan di dalam gelapnya panggung pendidikan. Nilai UNAS yang begitu tinggi dan prosentase kelulusan yang nyaris 100% di Surabaya menggelapkan kenyataan bahwa joki dan bocoran soal masih berkeliaran di detik-detik menjelang UNAS setiap tahunnya. Namun kita patut berbangga, karena jumlah siswa Smala penerima SNMPTN Undangan termasuk kedua yang tertinggi di Surabaya dengan total 53 siswa. Tak tanggung-tanggung, berbagai fakultas dengan passing grade tertinggi seperti FK UI, FK UA, FTI ITB, dan FTTM ITB berhasil diraih oleh mbak-mas Smalane kelas XII. Dengan kejujuran, mereka membuktikan bahwa kualitas mereka tak hanya terbatas UNAS, melainkan persaingan dengan ribuan calon mahasiswa Indonesia lainnya untuk menempati bangku di berbagai universitas bergengsi.
Tinggal kita sebagai Smalane yang akan membuktikan, apakah integritas dan kejujuran kita mampu menggeser anggapan bahwa bertindak jujur saat UNAS tak akan mendapat peringkat tinggi baik di tingkat kota, provinsi, maupun nasional. Di zaman sekarang, bertindak jujur layaknya berjudi dengan nasib—kita tak tahu apakah kebaikan yang kita pertaruhkan itu akan menuai buah yang manis ataukah menjadi bumerang yang siap menyerang kita setelahnya. Namun dengan kejujuran, pada akhirnya kitalah yang kemudian akan mampu menyanyikan lagu 'Smalane suci dalam pikiran, Smalane benar jika berkata,  Smalane tepat dalam tindakan, Smalane dapat dipercaya' sambil tersenyum penuh kebanggaan. (cay)

Rabu, 30 Mei 2012

Telah Siapkan yang Lain dari yang Lain


Menjadi seorang dancer bukanlah hal yang mudah. Latihan dance bisa dibilang sangat melelahkan karena harus melakukan gerakan-gerakan yang membutuhkan energi yang cukup banyak. Selain itu, juga diperlukan power dan keluwesan setiap melakukan gerakan dalam menari. Apalagi jika hal-hal tersebut harus diiringi dengan belajar yang seimbang.  

Hal tersebut juga dirasakan oleh SDC atau Smala Dance Crew, salah satu SS di SMAN 5 Surabaya yang berkecimpung dalam hal tari modern. Kali ini, SDC ikut mengukir nama Smala dalam kejuaraan DBL 2012. Tak mau kalah dengan tim basket Smala yang telah masuk babak Big Eight, SDC ikut berhasil memasuki babak Top Ten Dance Competition DBL 2012.

SDC yang sukses mempertahankan prestasi mereka  tahun lalu mengaku awalnya sempat merasa kurang percaya diri. “Awalnya kita agak pesimis, tapi senang juga masih bisa masuk Top Ten. Yang penting nggak boleh puas dulu karena masih ada langit di atas langit.” ujar Hanun Ariibah kelas X-8, salah satu anggota SDC, saat ditanyai akan perasaannya dapat memasuki babak Top Ten.

SDC yang akan berjuang dalam babak Top Ten Dance Competition DBL  2012 (mfa)

“Karena penilaiannya itu berdasarkan penampilan pertama, walaupun penampilan berikutnya ikut mempengaruhi. Padahal penampilan pertama kita kurang memuaskan.  Alhamdulillah sekali kita tetap bisa masuk.” sahut Bethari Bintang kelas X-6 yang juga merupakan salah satu anggota SDC menambahkan.

            Di balik kesuksesan mereka ini, tentu saja penuh dengan segala perjuangan keras. Latihan rutin setiap hari mulai pukul lima sore hingga sembilan malam giat mereka lakukan. Mereka bahkan rela mengorbankan jam pelajaran demi berlatih untuk kejuaraan tersebut. “Selama bisa bagi waktu sih bukan masalah. Selain itu SDC bagiku juga olahraga sehari-hari karena membuat aku tetap fit.” tukas Camilla Amanda kelas XI Akselerasi.

 Meski begitu, meninggalkan pelajaran bukan alasan bagi mereka untuk melalaikan tugas sebagai pelajar.Demi menyiasati masalah tersbebut, di sela-sela latihan mereka seringkali belajar bersama untuk mengejar ketertinggalan di sekolah.

Soal konsep untuk babak Top Ten, SDC masih merahasiakannya. “Lihat saja penampilan kami tanggal 2 Juni nanti, ya! Akan ada penampilan yang lain dari pada yang lain, pokoknya harus nonton.” kata Rezza Nadear kelas XI IA 5, sengaja membuat penasaran. (mir/tio)

Selasa, 29 Mei 2012

Abstrak, Sejuta Makna


Seni—satu kata yang mengandung banyak arti di dalamnya. Dan ketika arti-arti itu dijabarkan, bisa jadi terlalu sederhana, atau justru menjadi kompleks.

Mengutip dari Wikipedia, seni adalah proses dari manusia dan merupakan sinonim dari ilmu. Tak jauh berbeda dengan pendapat Bapak Fisika Dunia, Albert Einstein, yang menyatakan bahwa seni adalah sebuah cabang dari pohon yang juga memiliki dua cabang lainnya, yakni agama dan ilmu pengetahuan. Sedangkan pada waktu yang berlainan dalam film Midnight in Paris, Gertrude Stein (Kathy Bates) mengatakan bahwa seni ada sebagai penawar racun bagi kekosongan dalam jiwa seseorang.

Lalu, bagaimana dengan seni di mata Smalane?

“Karya dari hasil luapan emosi seseorang.” –Antania XI IA 9, Kordiv Layouting SS Joer-V

“Cinta. Seni dari hati. Kalo hati tidak beres, seni tidak beres.” –Bianda, Ketuas SS Karawitan

“Seni itu ekspresi orang yang sifatnya abstrak tapi indah. Yang muncul pertama kali saat denger kata seni itu.. Bakat, keterampilan, hasil karya.” –Valmay X-7, anggota SS Tari


“Seni itu sesuatu yang indah, yang bisa dinikmati. Jujur aja kalo denger kata seni, yang ada di pikiranku saat itu lukisan.” -Shafira Aulia XI IA 5, Ketua SS Tetris.

 Setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda terhadap seni. Seni sendiri sulit jika harus didefinisikan, ia mempunyai banyak makna tergantung dari mana kita melihatnya. Bahkan seni itu tergolong sulit untuk dinilai karena setiap individu punya rasa sendiri-sendiri terhadap suatu hasil karya. Namun, dari seni pulalah kita belajar banyak hal. Keindahan, ekspresi diri, kepekaan, dan kreativitas adalah beberapa hal yang kita dapatkan saat kita belajar seni. Setiap detik kehidupan kita juga tidak jauh-jauh dari yang namanya seni. Lalu apakah Smalane sudah menemukan makna sesungguhnya dari satu kata sederhana ini?
           
  Ada satu pernyataan menarik dari seorang Smalane, Deafitri Puspitasari X-9, yang berpendapat bahwa seni di Smala masih belum berkembang dengan baik. “Kebanyakan masih mementingkan hal-hal di bidang akademis. Seni itu cuma jadi bahan dalam pelajaran, di luar itu masih kurang,” ujar salah satu anggota PSGS yang pandai bermain piano ini. Nah, bagaimana menurutmu? Apakah kita memang belum mengembangkan seni dengan baik? Kalau belum, yuk kita mulai dari sekarang! (ars/nla)


Sosok Smalane Lain di Masjid



Ketika semuanya sedang sibuk-sibuknya pulang, seorang siswi penghuni kelas X-6 bernama Elvia malah sedang asyik-asyiknya menyapu Masjid An-Nuur bagian akhwat. Wah, terpuji sekali ya salah satu Smalane ini yang begitu semangatnya menjaga kebersihan di masjid Smala. “Itu sih udah biasa soalnya nggak srek gitu kalo liat masjid kotor,” kata siswa yang menjadi korbid di salah satu acara SSKI, Aladdin 2012.
Kegiatan membersihkan masjid Smala ini sudah menjadi tugas para pengunjung masjid itu alias Smalane. Tak perlu harus mengepel seluruh masjid, cukup menata rukuh yang dipinjam apabila tidak membawa dengan rapi dan tersusun kembali seperti semula. Para pengurus SSKI di divisi Kemasjidan sudah memiliki trik tersendiri untuk menjaga masjid An-Nuur tercinta tetap rapi dan memiliki banyak pengunjung tiap harinya. Tidak harus menjadi pengurus SSKI untuk mau menjaga masjid kita, cukup selalu menjadi Smalane yang cinta kebersihan di setiap saat saja sangatlah cukup.
Jiwa sosial Smalane pun muncul ketika melewati sebuah kotak infaq berwarna kuning dengan ukuran yang lumayan besar di masjid. Alhamdulillah, masih ada yang peduli. Termasuk juga Elvia. Dengan spontan, ia mengeluarkan beberapa uang dan memasukkannya ke dalam kotak tersebut. “Mumpung kantong masih ada isinya, kenapa nggak dipake buat berbagi sama yang lain?” tutur Elvia dengan bijaksana. “Lagipula diatasnya juga ada poster yang menarik yang bikin kita tergerak buat beramal. Jadi tambah pingin berbagi,” tambahnya. Luar biasa bukan?
Sudah beramalkah kalian hari ini? (dsp)
 Banyak sekali poster, slogan, dan beragam hasil karya tangan Smalane sendiri untuk saling mengingatkan satu sama lain. Namun, tanpa adanya niat awal dan kesadaram dari tiap-tiap insan, sebuah perbuatan baik pun tak akan terlaksana. Seperti sebuah kutipan salah satu buku menarik, “Beramal takkan kan mengurangi jumlah kekayaan duniamu. Justru dari hal kecil itu, kekayaanmu akan bertambah di dunia maupun di akhirat.” (chr/dnf)

INFAQ: Meskipun sederhana namun berarti. (dsp)



Elvia membersihkan masjid An-Nuur. (dsp)


Sabtu, 26 Mei 2012

Hari demi Hari Menuju UAS


DEMI UAS: Seorang Smalane sibuk mencari jawaban soal P3A (ram)

Ulangan Akhir Semester (UAS) hanya tinggal menghitung hari. Tantangan UAS ini cukup berat bagi Smalane, karena materi yang diakumulasi dari semester pertama hingga akhir, Standar Kelulusan Minimal yang dinilai cukup tinggi, serta bertepatan dengan penjurusan bagi kelas X. Apakah Smalane sudah siap menghadapi tantangan UAS kali ini? Lalu apa saja yang perlu disiapkan?
Tidak semua Smalane siap menghadapi ulangan yang menentukan kenaikan kelas ini. Dari 10 Smalane yang diambil secara acak, 7 menyatakan optimis berhasil dalam UAS ini. Salah satunya, Priskila Kurniandini dari kelas X-3. Siswi yang akrab disapa Kiki ini mengaku sudah cukup menguasai materi. “Sudah lumayan, sih, materi yang dikuasai,” ujarnya. Tidak hanya optimis, ia juga memiliki target tersendiri untuk hal ini. Ia menargetkan untuk memperoleh nilai minimal 85 untuk setiap mata pelajaran. “Nilainya minimal 85. Terus juga pengen nggak remidi, terutama di pelajaran IPA,” ucapnya. Ia mengaku dituntut untuk masuk ke jurusan IPA.
Nah, jika 7 dari 10 Smalane optimis akan berhasil dalam UAS, mengapa masih ada yang pesimis? Sudah banyak materi yang diberikan di sekolah, berbagai latihan soal, program P3A dan muatan lokal. Apa fasilitas ini dinilai masih kurang untuk menyiapkan diri? Atau tidak tahu bagaimana cara yang efektif untuk belajar?
Dedy Aria Aditia dari XI IA 5 mempunyai kiat-kiat tersendiri untuk menghadapi UAS kali ini. “Belajar jauh-jauh hari, usahakan mengulang kembali materi dari bab awal hingga akhir. Jika masih ada yang belum jelas, segera tanya ke guru yang bersangkutan, kapanpun dan di manapun,” tuturnya. Ia juga menyarankan untuk membuat rangkuman materi bila diperlukan, serta mengerjakan soal-soal yang pernah keluar tahun lalu. Selain itu, berdoa juga merupakan hal yang penting. “Dan terakhir berdoa, perbanyak ibadah, minta restu ke orang tua. Insya Allah itu cukup,” tulisnya.
Gimana, Smalane? Masih pesimis untuk menghadapi UAS? UAS itu mudah, kok! Tinggal bagaimana cara kita mengatur waktu, menyusun trik belajar, menyiapkan mental, dan berdoa. Jika yang lain sudah optimis, mengapa masih ada yang pesimis? Toh, kita sudah pernah mengalami UAS berkali-kali sebelumnya. Yang penting, kuatkan motivasi kita dan tetap semangat! (ram/dia)

Jumat, 25 Mei 2012

Pelajaran Bahasa di Mata Si Kembar, Dini dan Dina


Si kembar Dina dan Dini kelas XI- aksel. (ayr)
                        “Pelajaran bahasa ini adalah pengalaman baru yang berharga.” ujar Sang kakak, Adinda Ayu Dyah Rahadini atau Dini, saat ditanya mengenai perasaannya kala menjumpai pelajaran bahasa di SMA Negeri 5 Surabaya. Tak berbeda dengan kakaknya, Adinda Ayu Dyah Rahadina atau Dina, juga merasa hal yang sama. Si kembar asal Jember ini menjadi siswa di SMA Negeri 5 Surabaya sejak November 2011 dan kini berada di kelas XI Akselerasi. Pada awal registrasi siswa pindahan, mereka dihadapkan pada tiga pilihan bahasa, Jerman, Jepang, dan Mandarin. Keduanya dengan mantap memilih Jerman. “Sejak awal memang sebenarnya sudah tertarik ke Jerman, nggak tau kenapa.” jelas Sang adik yang biasa disapa Dina.
                        Jika saat ini banyak siswa kelas X yang minatnya mulai berkurang dalam mengikuti pembelajaran pelajaran bahasa, hal ini sangat berbeda dengan anggapan Dini dan Dina, mereka sangat excited dan menganggap penting pelajaran tersebut. Berbagai upaya pun dilakukan agar bisa mengikuti pelajaran bahasa dengan baik. “Ya karena kami masuk Smala ini waktu pelajarannya uda di tengah-tengah, kami berusaha memahami sendiri. Tapi karena nggak mudeng-mudeng akhirnya kami les di bimbingan Bahasa Jerman. Biar lebih mudah dan ngejar ketertinggalan kami.” jelas Dini.
                        Menurut mereka, ada aspek yang perlu dibenahi dalam pembelajaran pelajaran bahasa di SMA Negeri 5 Surabaya yaitu cara pembelajaran yang digunakan. “Disekolah memang mudeng, tapi cuma sedikit. Kalau di les-les-an itu lebih enak. Ada speaking writing, sama listening gitu. Jadi lebih menyenangkan.” papar Dina. mereka berharap agar ada inovasi-inovasi baru yang lebih variatif agar proses pembelajaran terasa lebih menyenangkan. Walaupun cara pembelajaran di sekolah tidak semenarik di tempat les mereka, mereka tetap mengapresiasi penuh pelajaran bahasa di Smala dan tidak pernah menyesal mendapatkan pelajaran bahasa.
                        Selain minat yang berkurang, banyak dari siswa kelas X yang ingin pindah dari pelajaran bahasanya. Hal ini disebabkan karena ada bahasa lain yang dianggap lebih menarik dibanding bahasa yang sedang dipelajari kini. Namun, dimata kembar identik ini, bahasa yang dipilih mereka sudah tepat dan mereka yakin bahwa pelajaran bahasa ini kedepannya pasti akan berguna bagi kehidupan mereka. Saran dari Dina dan Dini bagi SMA Negeri 5 Surabaya terutama dalam berlangsungnya pelajaran bahasa adalah dengan ditambahnya inovasi-inovasi baru yang bisa ditambahkan dalam proses pembelajaran pelajaran bahasa agar siswa tidak merasa jenuh dan bosan. Selain itu, diharapkan guru pengajar lebih friendly terhadap muridnya dan hendaknya sebagai murid, kita mencintai pelajaran tersebut agar mampu memelajarinya dengan baik. “Percayalah pasti suatu saat nanti ilmu bahasa ini akan ada gunanya.” ucap Dini diikuti anggukan kecil sang adik. (miw/acr)

Kamis, 24 Mei 2012

Education? Should've Been Fun!

Sepasang remaja tampak akrab satu sama lain, seolah meniadakan fakta bahwa tempat ini bukanlah daerah asal mereka. Kombinasi warna kulit yang kontras—yang satu pucat dengan bintik-bintik khas ras Kaukasia dan satunya lagi gelap cenderung sawo matang—tak membuat mereka risih ataupun canggung. Brooke dan Kelly, salah dua dari belasan peserta pertukaran pelajar dari Tranby College yang sejak seminggu kemarin mengikuti pembelajaran di SMAN 5 Surabaya kini berbagi kisah dan isi kepala mereka mengenai apa yang selama ini belum terlintas di pikiran kita mengenai pendidikan di Indonesia.

What motivates or encourages you to have an experience here?
Kelly: “I just love to learn the language.”
Brooke: “I love learning cultures, and I just want to have new experiences. It’s nice to visit Indonesia, anyway.”

What’s the biggest difference between education here and in Australia?
Kelly: “The subject, I think. In Australia we only have 6 subjects and we’re really focused on it while you have too many subjects that you have to learn. And the time you spend at school is too long that it'll bore the students. Learning should've been fun for us, right?”

What’s the difference between Indonesia’s students and Australia’s?
Brooke: “The responsibility of the students. Every student works very hard in doing their tasks but it seems like they don’t really enjoy it. The teachers also expect too much from their students.”

What do you enjoy the most while you’re in Smala?
Kelly & Brooke: “The people; they all are really nice and friendly. The canteen and the library are also very good.”

The last question; if you had a chance to meet our Minister of Education, what would you say to him?
Brooke: “I’d suggest him to start school not this early. It’d be nice to start at 7.30 or 8 o’clock, maybe. So the students will have more time to finish the homework and have more social life.”

                Dari perbincangan dengan dua pelajar Australia ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa sistem pendidikan di Indonesia yang mengedepankan kuantitas subjek pembelajaran masih lebih diutamakan daripada kualitas pembelajaran itu sendiri. Sangat disayangkan memang, padahal sumber daya manusia di Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan negara-negara Eropa atau Amerika. Hanya saja, kita kurang fokus dalam mempelajari hal-hal yang sesuai dengan minat kita sehingga kemampuan kita tidak bisa berkembang secara maksimal. Semoga dengan melihat sisi lain pendidikan dari sudut pandang yang berbeda ini, kita mampu memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia di masa depan.
                Dan sebelum mereka bertolak kembali ke Australia, inilah kegiatan terakhir mereka di Smala yang khusus diadakan oleh Pararela. Such a good time with you all, Tranbiers! (cay)

ANTUSIAS : Brooke (tengah) dan Kelly (kanan) saat belajar medis dengan Pararela (als)

AKRAB : Foto bersama, kolaborasi siswa Tranby College dan SMAN 5 Surabaya (als)

MENARIK : Siswa Tranby College saat diajak bermain kereta buta (als)