Rabu, 10 April 2013
Ohh, Kencur
Bentuknya kecil, berwarna coklat, baunya harum untuk sebagian orang, rasanya enak untuk sebagian orang, hanya dengan melemparnya ke tanah ia akan tumbuh dengan alami, dan dengan sinar matahari, tidak terlalu basah serta setengah ternaungi ia dapat tumbuh subur. Ya temu kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah atau pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air, kencur.
Sejak jaman dahulu kencur telah dikenal sebagai tanaman obat yang banyak digunakan untuk membantu mengobati berbagai macam penyakit. Manfaat kencur antara lain adalah untuk membantu meringankan sakit kepala, influenza, keselo dan beberapa penyakir ringan lainya.
Khasiat kencur juga telah dikenal sejak jaman dahulu untuk membantu melangsingkan tubuh, meringankan serangan penyakit migrain, mengobati asthma, mengobati penyakit rematik, mengobati tetanus, batuk serta mampu menghilangkan jerawat.
Teman-teman, ternyata sebagian besar Smalane mengetahui temu ini. bukan hanya mengetahui tetapi juga mengonsumsi. Contohnya SS PSGS dan SS Pas-Q V, ke-2 SS ini tidak asing dengan kencur. Bahkan di latihannya mereka sering mengonsumsi kencur. Para anggota PSGS dan Pas-Q V mengonsumsi kencur itu agar latihan mereka dapat berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala dengan suara mereka.
Mengintip sehari latihan Pas-Q V, selain mereka latihan PBB dan latihan fisik ternyata disela-sela latihan, mereka mengonsumsi 1 potong kencur. Pernah di saat latihan mereka makan kencur hingga beberapa kali dengan jumlah kencur yang sedikit lebih banyak. Cara memakannya, pertama ambil satu atau dua potong kencur. Lalu letakkan kencur itu ke gigi taring di samping kanan dan kiri serta gigit. Lalu tutup mulut dan gigit serta kunyah sampai halus lalu telan kencur. Disarankan agar kencur utuh tidak diletakkan langsung di tengah mulut agar saat akan menggigit dan mengunyahnya tidak ingin memuntahkan kencur.
“Pertama ngerasain baunya itu tidak enak dan rasanya aneh pedas. Tetapi lama kelamaan aku jadi suka”, pengakuan Cindy X.9 salah satu angkatan XXI Pas-Q V. “Manfaat untuk stamina badan jadi lebih fit dan segar. Selain itu suara kita jadi lebih keras”, tutur Cindy X.9 saat tanya tentang manfaat dari kencur.
“Rasa kencur itu kayak apel tapi pedes, gurih krenyes-krenyes gitu. Pertama makan kencur rasanya gak enak banget tapi lama kelamaan jadi terbiasa”, tutur Tasya X.9 salah satu angkatan XXI Pas-Q V saat ditanya tentang kesan makan kencur seraya tertawa. “Manfaatnya kayak buat nguatin suara dan menurutku Pas-Q V butuh itu agar teriakannya jadi menggelegar. Selain itu aku tersugesti kencur itu menguatkan fisik”, lanjut Tasya X.9. (aid)
Selasa, 02 April 2013
Budaya Literasi di Mata Smalane
Munculnya
Budaya Literasi di Smala, berawal dari kurangnya minat membaca karya sastra di
kalangan pelajar. Hal mendasar itulah, yang menjadikan suatu alasan para guru
dan staf Smala untuk mengadakan program literasi. Karena tanpa membaca,
pendidikan di negara ini tidak akan berjalan sesuai cita-cita reformasi.
Program Budaya Literasi ini,
bertujuan untuk meningkatkan minat baca, khusunya kalangan pelajar dan juga meningkatkan
nilai Ujian Nasional Bahasa Indonesia yang sulit bagi siswa untuk mendapatkan
nilai sempurna yakni, 10,00. Karena, pada Ujian Nasional Bahasa Indonesia
banyak menggunakan soal-soal bacaan seperti, cerita sastra, puisi, berita, dan
lain-lain. Sehingga, siswa harus benar-benar mengerti dan memahami bacaan tersebut sebelum menjawab soal yang tersedia
dengan benar dan tepat.
Teknik pelaksanaan program
Budaya Literasi ini, dimulai dari jam ke-0 yakni, 06.30-06.45. Setelah membaca
novel, siswa diwajibkan untuk menulis resume dan ditanda tangani oleh guru
pengajar di jam pelajaran pertama. Barulah, pelajaran utama dimulai.
Program literasi ini banyak
mendapatkan tanggapan positif dari Smalane. Karena di dalam Budaya Literasi
ini, tidak hanya sebatas membaca dan menulis resume. Tetapi juga, Smalane yang
giat dalam membaca karya sastra atau novel dan membuat resume yang telah
dibaca, akan mendapat penghargaan dari pihak sekolah. Salah satu, Smalane yang
mendapat juara 2 dalam banyaknya jumlah buku yang dibaca satu bulan terakhir adalah
Imelda X-8, ”Literasi adalah program baru dari Kepala Sekolah Smala yang dapat
menambah wawasan dan pengalaman siswanya melalui kegiatan membaca. Literasi
secara tidak langsung menambah perbendaharaan kosakata para siswa.” Jelasnya.
Namun, terdapat salah satu Smalane yang berpendapat lain,
mengenai Budaya Literasi. Yakni, Dea X-8,”Sebenarnya, program literasi ini sangat baik untuk
pelajar terutama Smalane sendiri. Namun, yang jadi permasalahan barunya adalah
kita dituntut untuk terus membaca novel selama 15 menit, yang dapat menimbulkan
kecanduan untuk membaca novel tersebut terus-menerus. Sehingga, waktu belajar
pun terganggu.” Ungkapnya.
Meskipun banyaknya tanggapan dan
komentar Smalane tentang budaya literasi, program literasi merupakan program
yang telah dicanangkan oleh pihak sekolah
yang harus ditaati oleh pelajar. Namun, ada baiknya juga apabila sekolah
juga mempertimbangkan aspirasi-apsirasi dari siswa-siswinya. Agar menimbulkan
kesinambungan mengenai pemikiran siswa dan pihak sekolah.(ddy)
Senin, 25 Maret 2013
Earth Hour di Berbagai Belahan Dunia
Nama Earth Hour mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para pembaca. Earth Hour sendiri adalah kegiatan dunia yang di organisir oleh lembaga WWF (World Wide Fund for Nature). Merupakan kegiatan yang mengajak seluruh penduduk di bumi untuk mematikan lampu sejenak selama 1 jam pada hari yang ditentukan di Bulan Maret. Kegiatan Earth Hour ini semata-mata bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan perubahan iklim. Bermula pada 31 Maret 2007 pada pukul 19.30-20.30 dimana pertama kali bertempat di Sydney. Pada saat itu Earth Hour dilaksanakan sebagai kegiatan nasional Sydney. Akan tetapi setelah pertama kali terselenggarakannya Earth Hour tersebut, minat negara-negara lain untuk ikut bergabung dalam Earth Hour tahun berikutnya sangat tinggi. Berbagai negara mendaftarkan diri untuk ikut bergabung.
Pada 29 Maret 2008, tercatat bahwa 371 kota yang berasal dari 35 negara secara serempak ikut meramaikan kegiatan Earth Hour tahun 2008. Diperkirakan terdapat 50.000.000 penduduk bumi ikut mendukung aksi Earth Hour ini.
Pada 28 Maret 2009. Ratusan juta orang di lebih dari 4.000 kota dan kota-kota di 88 negara mematikan lampu mereka selama satu jam, menunjukan betapa besar kepedulian mereka terhadap perubahan iklim yang terjadi. Earth Hour ini meluncurkan Orb Rakyat, yaitu bola perak berkilauan yang berisi hard drive 350 gigabyte yang berisi video, gambar dan dokumen yang mewakili ratusan juta orang yang ikut menyuarakan tindakan mereka terhadap perubahan iklim yang berlangsung.
Sama halnya dengan Earth Hour tahun 2010 maupun tahun 2011, terjadi berbagai peningkatan terhadap aksi kepedulian tersebut. Negara yang tergabung dalam aksi Earth Hour itu pun semakin tahun semakin banyak. Dengan berbagai cara, mereka ikut meramaikan kegiatan Earth Hour tersebut dengan cara mereka masing-masing.
Pada Earth Hour 31 Maret 2012 yang diadakan di 8:30 pm-9: 30pm. Earth Hour memperkuat dirinya sebagai aksi sukarela terbesar bagi lingkungan, dengan lebih dari 6950 kota dan kota-kota di 152 negara dan wilayah mengambil peran besar dalam aksi lingkungan ini. Earth Hour 2012 pergi ke ekstrem untuk melindungi planet ini, dengan astronot André Kuipers mengamati lampu acara dari Stasiun Luar Angkasa Internasional. Hanya beberapa bulan setelah berakhirnya pemberontakan Libya, dua remaja di Tripoli menyelenggarakan Earth Hour untuk pertama kalinya di Libya.
Earth Hour yang baru saja diselenggarakan pada 23 Maret 2013 pukul 20.30-21.30 kemarin juga mengambil banyak suara masyarakat di penjuru dunia. Berbagai negara saling menunjukkan aksinya untuk mendukung aksi Earth Hour tersebut.
Dimulai dari:
Earth Hour di Pusat Perbisnisan Beijing (Foto oleh Feng Li)
Earth Hour di Pusat Keramaian Singapura (Foto oleh Natashia Lee)
Earth Hour di Charles Bridge, Prague (Foto oleh Petr Josek)
Dari berbagai foto diatas, dapat kita lihat bahwa berbagai kalangan masyarakat di segala penjuru dunia saling menunjukkan aksi mereka mendukung kegiatan Earth Hour ini. Semakin banyak penduduk kita yang peduli dengan perubahan iklim yang saat ini terus menerus terjadi, maka seharusnya kita semakin peduli dengan lingkungan kita. (fbi)
Pada 29 Maret 2008, tercatat bahwa 371 kota yang berasal dari 35 negara secara serempak ikut meramaikan kegiatan Earth Hour tahun 2008. Diperkirakan terdapat 50.000.000 penduduk bumi ikut mendukung aksi Earth Hour ini.
Pada 28 Maret 2009. Ratusan juta orang di lebih dari 4.000 kota dan kota-kota di 88 negara mematikan lampu mereka selama satu jam, menunjukan betapa besar kepedulian mereka terhadap perubahan iklim yang terjadi. Earth Hour ini meluncurkan Orb Rakyat, yaitu bola perak berkilauan yang berisi hard drive 350 gigabyte yang berisi video, gambar dan dokumen yang mewakili ratusan juta orang yang ikut menyuarakan tindakan mereka terhadap perubahan iklim yang berlangsung.
Sama halnya dengan Earth Hour tahun 2010 maupun tahun 2011, terjadi berbagai peningkatan terhadap aksi kepedulian tersebut. Negara yang tergabung dalam aksi Earth Hour itu pun semakin tahun semakin banyak. Dengan berbagai cara, mereka ikut meramaikan kegiatan Earth Hour tersebut dengan cara mereka masing-masing.
Pada Earth Hour 31 Maret 2012 yang diadakan di 8:30 pm-9: 30pm. Earth Hour memperkuat dirinya sebagai aksi sukarela terbesar bagi lingkungan, dengan lebih dari 6950 kota dan kota-kota di 152 negara dan wilayah mengambil peran besar dalam aksi lingkungan ini. Earth Hour 2012 pergi ke ekstrem untuk melindungi planet ini, dengan astronot André Kuipers mengamati lampu acara dari Stasiun Luar Angkasa Internasional. Hanya beberapa bulan setelah berakhirnya pemberontakan Libya, dua remaja di Tripoli menyelenggarakan Earth Hour untuk pertama kalinya di Libya.
Earth Hour yang baru saja diselenggarakan pada 23 Maret 2013 pukul 20.30-21.30 kemarin juga mengambil banyak suara masyarakat di penjuru dunia. Berbagai negara saling menunjukkan aksinya untuk mendukung aksi Earth Hour tersebut.
Dimulai dari:
Earth Hour di Burj Khalifa, Dubai (Foto oleh Jumana El Heloueh )
Earth Hour di Pusat Perbisnisan Beijing (Foto oleh Feng Li)
Earth Hour di Pusat Keramaian Singapura (Foto oleh Natashia Lee)
Earth Hour di Charles Bridge, Prague (Foto oleh Petr Josek)
Dari berbagai foto diatas, dapat kita lihat bahwa berbagai kalangan masyarakat di segala penjuru dunia saling menunjukkan aksi mereka mendukung kegiatan Earth Hour ini. Semakin banyak penduduk kita yang peduli dengan perubahan iklim yang saat ini terus menerus terjadi, maka seharusnya kita semakin peduli dengan lingkungan kita. (fbi)
Rabu, 20 Maret 2013
Liga Champions : Ajang Kompetisi Raksasa Eropa
Sepakbola merupakan salah satu olahraga yang paling digandrungi,mulai dari strategi permainan yang cerdik hingga klub klubnya yang bersejarah tinggi membuat olahraga ini digemari bermacam-macam orang di berbagai belahan dunia. Salah satu faktor yang membuat olahraga ini memiliki banyak penggemar adalah pertandingannya yang sarat akan intrik dan semanggat kompetisi yang tinggi. Salah satu ajang kompetisi sepakbola sendiri yang paling prestisius adalah 'Liga Champions'.
Dimulai sejak tahun 1955, kompetisi tahunan ini mempertandingkan klub-klub asal daratan Eropa yang selalu sengit dan seru untuk dilihat tak terkecuali tahun ini.
Tahun ini 'Liga Champions' tak hanya mempertandingkan klub-klub kuat dengan tradisi juara seperti Real Madrid dan Barcelona tetapi juga klub kuda hitam seperti Galatasaray asal Turki. Maka seperti layaknya bola yang bundar tahun ini kejuaraan yang mengadaptasi lagu tema "Zadok the Priest" ini akan menghasilkan hasil yang tidak bisa diprediksi siapa pun.
Liga Champions sendiri juga mempunyai penggemar di lingkungan Smala sendiri. Salah satunya adalah Gabriel Advent dari kelas X 9. untuk Liga Champions tahun ini ia menjagokan Borussia Dortmund klub asal Jerman yang pernah menjuarai ajang ini pada edisi 1996. "Klub ini memiliki potensi yang tinggi dan terlihat tangguh pada tahun ini" ujar siswa yang juga tergabung dalam SS futsal tersebut. memang apa yang dikatakan Gabriel tersebut ada benarnya melihat dari keberhasilan Borussia dalam mejuarai grup d mengalahkan Real Madrid yang merupakan pengkoleksi juara terbanyak liga champions yakni sebanyak sembilan kali. selain Gabriel ada juga Fauzan dari XI IA 2 yang memilih untuk menjagokan klub asal Jerman lainnya yakni Bayern Munchen yang juga merupakan jawara dari grup f.
Meskipun kedua klub diatas sama-sama mempunyai tradisi juara belum tentu kedua klub akan berhasil menjadi juara mengingat kompetisi ini yang tidak ramah kepada juara bertahan. Belum ada klub yang berhasil memenangi kompetisi ini dua kali berturut turut sejak kompetisi ini diubah menjadi Liga Champions (sebelumnya dikenal dengan piala Eropa). Klub seperti PSG (Paris Saint German) yang tidak punya tradisi juara sama sekali dalam ajang ini terbukti menjadi salah satu kandidat kuat juara.
maka hasil akhir kompetisi ini sama sekali tidak bisa diprediksi mengingat Liga Champions sendiri baru memasuki babak perempat final. (aw)
Dimulai sejak tahun 1955, kompetisi tahunan ini mempertandingkan klub-klub asal daratan Eropa yang selalu sengit dan seru untuk dilihat tak terkecuali tahun ini.
Tahun ini 'Liga Champions' tak hanya mempertandingkan klub-klub kuat dengan tradisi juara seperti Real Madrid dan Barcelona tetapi juga klub kuda hitam seperti Galatasaray asal Turki. Maka seperti layaknya bola yang bundar tahun ini kejuaraan yang mengadaptasi lagu tema "Zadok the Priest" ini akan menghasilkan hasil yang tidak bisa diprediksi siapa pun.
Liga Champions sendiri juga mempunyai penggemar di lingkungan Smala sendiri. Salah satunya adalah Gabriel Advent dari kelas X 9. untuk Liga Champions tahun ini ia menjagokan Borussia Dortmund klub asal Jerman yang pernah menjuarai ajang ini pada edisi 1996. "Klub ini memiliki potensi yang tinggi dan terlihat tangguh pada tahun ini" ujar siswa yang juga tergabung dalam SS futsal tersebut. memang apa yang dikatakan Gabriel tersebut ada benarnya melihat dari keberhasilan Borussia dalam mejuarai grup d mengalahkan Real Madrid yang merupakan pengkoleksi juara terbanyak liga champions yakni sebanyak sembilan kali. selain Gabriel ada juga Fauzan dari XI IA 2 yang memilih untuk menjagokan klub asal Jerman lainnya yakni Bayern Munchen yang juga merupakan jawara dari grup f.
![]() |
| 'The Big Ear' piala yang diperebutkan dalam Liga Champions (aw) |
maka hasil akhir kompetisi ini sama sekali tidak bisa diprediksi mengingat Liga Champions sendiri baru memasuki babak perempat final. (aw)
Jumat, 15 Maret 2013
Jangan Lagi Pandang Sebelah Mata
Berdiam
di pinggir jalan, mulai datang dan menghampiri kendaraan satu persatu ketika
lampu merah mulai menyala. Dengan wajah polos khas anak anak, mereka datang
menghampiri kaca mobil, bernyanyi sambil bermain gitar, berjualan koran,
ataupun hanya sekedar menengadahkan tangan mengiba. Siapa yang tak pernah
melihat anak – anak seperti mereka? Bahkan di depan sekolah kita sendiri sering
terlihat pula gadis kecil yang sering mendekati dan membuntuti kita untuk
menjual korannya.
Banyak diantara
kita yang memandang sebelah mata anak – anak bernasib kurang beruntung seperti
mereka. Banyak diantara kita yang hanya tersenyum kecil tak peduli dan segera
menghindar ketika mereka datang menghampiri. Tak sedikit pula yang bersikap
acuh dan secara kasar menyuruh mereka untuk pergi. Memang terkadang kehadiran
mereka terasa mengganggu, tapi pernahkah berpikir bahwa itu semua sebenarnya
bukan salah mereka?
| Senyum lepas Cita ketika berpose.(nhz) |
Seperti
tutur gadis penjual di depan sekolah yang sering kita lihat, Cita. Pernahkah Smalane
berkenalan lebih dekat dengannya? Tinggal dengan ibunya di jalan Ambengan, Cita
adalah gadis kecil berumur 9 tahun dan berada di bangku kelas lima di salah
satu SD Negeri Surabaya. Meskipun ketika diminta membaca judul koran yang
dijualnya ia menolak dengan senyum malu, beruntungnya Cita masih sempat
bersekolah. Berjualan di pinggir jalan sekitar Smala dari jam 11 siang ketika
pulang sekolah sampai malam, Cita mengaku memang ibunya yang memintanya untuk
berjualan, sedangkan ibunya sendiri tidak ikut dan hanya mengawasi Cita dari
kejauhan. Meskipun tak ada waktu untuk bermain dan belajar, Cita berucap “Ya
senang mbak, ikut membantu orang tua,” dengan senyum jenaka yang tulus.
Begitu
polos dan tulusnya anak jalanan seperti Cita, tegakah untuk bersikap kasar
dengannya? Walau terkadang memang sedikit menyebalkan, namun sempatkanlah untuk
berpikir apa yang membuat mereka bersikap seperti itu. Cita hanyalah satu
diantara banyak anak jalanan yang ada di sekitar kita. Yang masih beruntung
karena dapat merasakan bangku sekolah, tidak seperti anak jalanan lainnya yang
cenderung tidak peduli masalah pendidikan, bahkan ada beberapa yang ingin,
namun tak cukup beruntung untuk merasakannya. Maka dari itu Smalane, jangan
lagi lihat mereka dengan sebelah mata. Mari perbaiki diri kita dengan ikut
membantu, atau sekedar bersikap ramah dan tak acuh kepada anak – anak jalanan
yang bernasib kurang beruntung seperti mereka.(ai)
Selasa, 12 Maret 2013
Diperkirakan 2025 Air Krisis Jadi Teman Rakyat Pribumi
Air merupakan salah satu unsur vital
bagi kehidupan manusia. Dari kelimpahan air di dunia, hanya lima persen saja
yang layak dikonsumsi sebagai air bersih dan sisanya merupakan air laut dan air
yang dimanfaatkan manusia untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Namun krisis
air bersih melanda Indonesia, padahal Indonesia merupakan negara yang kaya.
Indonesia memiliki enam persen persediaan air dunia, atau sekitar 21% dari
persediaan air Asia Pasifik, namun pada kenyataannya, dari tahun ke tahun,
Indonesia selalu mengalami krisis air bersih.
Pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan
penduduk di Indonesia yang melaju cukup signifikan tidak diimbangi dengan daya dukung sumber daya
alam. Berbagai masalah yang timbul seperti seperti masalah yang timbul dari
terjadinya krisis air jika dilihat dari faktor perubahan iklim hingga kerusakan
lingkungan yang langsung berimbas dampaknya bagi ekosistem tertentu. Hal tersebut
diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Kementrian Dalam Negeri, Diah Anggaraeni,
dalam rapat pengelolaan lingkungan hidup daerah wilayah barat Indonesia di
Hotel Kapuas Palace, Pontianak, pada Kamis lalu (7/3).
“Di beberapa negara, karena minimnya
lahan pertanian dan sedikitnya pangan, pada 2025 diperkirakan akan terjadi
krisis air, karena sulit didapat air bersih untuk minum. Perubahan iklim yang
ekstrem akan mulai terasa akibat ketidaksimbangan lingkungan,” kata Diah.
Indikasi krisis air bersih dapat
dilihat dari kondisi air yang digambarkan berdasarkan kualitas air dan
ketersediaan atau volume air yang terdapat di Indonesia yang berkaitan dengan
seberapa anyak air yang dapat dimanfaatkan dibandingkan dengan kebutuhannya. Sedangkan
kondisi air berkaitan dengan kelayakan pemanfaatan air untuk berbagai kebutuhan.
Kualitas air juga berkaitan dengan volume dan daya pulih air untuk menerima
beban pencemaran dalam jumlah tertentu. Dan kelayakan air di Indonesia,
terutama sebagai air minum, sangat memprihatinkan.
Potensi ketersediaan air bersih di
Indonesia dari tahun ke tahun cenderung berkurang akibat rusaknya daerah
tangkapan air dan pencemaran lingkungan yang diperkirakan sebesar 15-35% per
kapita per tahun. Padahal di lain pihak, kecenderungan konsumsi air bersih
justru naik secara eksponensial. Pertumbuhan penduduk juga berpengaruh pada
kebutuhan air bersih yang tersedia.
“Semakin bertambahnya tahun, jumlah
air bersih di Indonesia semakin berkurang. Mungkin salah satu faktor
penyebabnya adalah semakin banyaknya pencemaran yang terjadi dan mungkin lahan
untuk pembangunan juga berpengaruh. Dulu orang bisa langsung minum dari sungai,
sekarang tak semua air dari sungai layak minum. Sekarang air bersih mungkin cuma
dari PDAM,” kata Yayan kelas 11 IPA 8 SMAN 5 Surabaya.
Diah mengatakan, di era
desentralisasi dan otonomu daerah sekarang ini, masalah lingkungan hidup telah
diamanatkan dalam UU No.32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah pasal 13 dan
14. Ketentuan itu menegaskan bahwa pengendalian lingkungan hidup merupakan
urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi, dan
kebupaten/kota.
“Kami semua melakukan pembangunan. Bahkan
pembangunan dilakukan oleh dunia. Dan, selama ini pembangunan memang nyata
untuk lingkungan,” tuturnya.
“Di satu sisi, dalam melakukan
pembangunan memang harus ramah lingkungan. Pembangunan itu harus sesuai dengan
undang-undang. Hal ini tentunya menjadi tantangan kami semua. Pembangunan itu
merupakan pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan,” tuturnya kembali.
Menurut Yayan, solusinya yang pasti
adalah dengan memimalisir pencemaran. Yang pertama dengan tidak membuang sampah
sembarangan terutama di daerah aliran sungai (DAS), kedua yaitu dengan
melakukan lebih banyak daur ulang pada sampah plastik, ketiga dengan
membersihkan saluran air atau got dan menyaring pembuangan limbah rumah tangga,
keempat dengan menanam banyak pohon karena tanaman berpengaruh banyak untuk
mengurangi pencemaran air, dan semua itu membutuhkan kesadaran diri
masing-masing individu di Indonesia. (aza)
Sabtu, 09 Maret 2013
Kesehatan Emosi Saat Budaya Literasi
Budaya
literasi, sebuah budaya yang digalakkan oleh SMAN 5 Surabaya ini memiliki
banyak manfaat dan dampak bagi Smalane. ”Tanpa membaca pendidikan akan mati,”
dapat diartikan bahwa membaca ialah batu loncatan bagi suatu keberhasilan
pendidikan. Budaya literasi ini mewajibkan Smalane untuk menyisihkan waktu 15
menit dalam sehari untuk membaca buku. Buku yang dimaksud ialah buku novel atau
kumpulan cerpen-cerpen. Buku yang dibaca ada yang berjenis fiksi dan non fiksi.
Ketika diadakan survey, mayoritas Smalane membaca buku berjenis fiksi. Banyak alasan
yang mereka utarakan, misalnya ceritanya unik, alur ceritanya yang tidak biasa,
dan banyak kejadian-jadian baru yang mereka dapatkan dari membaca novel. Selain
membaca kita juga ikut membayangkan segala peristiwa yang ada dalam novel
tersebut. Hal ini dituturkan langsung oleh Erike Anisa Nurshafa dari kelas X.5.
Membahas tentang
perkembangan budaya literasi sampai saat ini di SMAN 5 Surabaya, setiap hari
para Smalane masih mengikuti budaya tersebut dan karena budaya ini pula banyak
Smalane yang menjadi ketagihan dan melanjutkan membaca di rumah. “Budaya
literasi dikelasku tergantung guru jam pertama. Kalau gurunya menyuruh membaca,
kelasku membaca, dan sebaliknya. Kalau aku sendiri membacanya di rumah, di
sekolah menulis resumenya tetapi kadang malas untuk tanda tangannya. Menurutku
budaya literasi semakin menurun soalnya tidak ada penyetoran resume tiap bulan
pada sekolah,” tutur Erike Anisa Nurshafa. Hal ini berbeda dengan pendapat Naurah
X.7, “Lumayan sering melakukan budaya literasi, tetapi bacaan yang dibaca
terkadang buku pelajaran karena pada jam pertama akan ada ulangan pelajaran
itu. Menurutku budaya literasi ialah budaya yang ditumbuhkan SMAN 5 Surabaya
untuk menghasilkan generasi yang gemar membaca.”
“Gak tau nih dampak budaya literasi. Tak ada esensinya. Yang terlihat
novel semakin berceceran dan suka pinjam novel ditambah suka nge-share novel bagus,” tutur Erike Anisa
Nurshafa. “Dapat pelajaran setelah membaca. Emosi juga dipermainkan saat
membaca novel fiksi, seperti menangis,” kata Naurah X.7 saat dimintai
keterangan mengenai dampak budaya literasi.
Ternyata
tidak mudah membaca fiksi. Mengapa? Dalam cerita fiksi yang sering kita temui,
terdiri dari kalimat-kalimat narasi yang menggugah, latar, alur, dan fantasi
atau khayalan yang belum pernah kita temui yang membuat emosi kita terasa
digelitik. Emosi yang dimaksud seperti kita suka menangis saat membaca cerita
yang sedih, tertawa terpingkal-pingkal saat membaca cerita konyol dan komedi,
merasa marah saat tokoh dalam cerita melakukan hal bodoh yang membuat tokoh
lain dalam bahaya, dan lain-lain. Pernah tidak kalian berpikir bahwa membaca
cerita horor membuat kita berada dalam dunia nyata dan dunia khayalan yang
dibuat oleh pengarang buku. Tidak sedikit orang yang mencari dan membaca cerita
fiksi untuk mempermainkan perasaan yang nantinya akan mengobati dan mencukupi
kebutuhan emosi mereka.
Saat membaca novel atau cerita fiksi lainnya
diharapkan pembaca dapat mengendalikan emosinya. Boleh saja menggunakan emosi
saat membaca tetapi tidak perlu menggunakannya secara berlebihan. Saat membaca
novel atau cerita fiksi tersebut juga harus menyadari bahwa yang ada didalamnya
hanya cerita fiksi atau karangan belaka, serta jangan pernah meniru atau
terlalu terpengaruh dengan hal-hal seperti itu. Sebaiknya kita harus mengambil
hal-hal yang sekiranya bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, nusa dan
bangsa.
Dibawah
ini ialah tips untuk menjaga kesehatan emosi dalam membaca novel atau cerita
fiksi lainnya.
Pertama, novel itu novel, cerita
fiksi itu cerita fiksi. Artinya, saat membaca novel atau cerita fiksi semua
anggapan atau dugaan bahwa mungkin kisah atau tragedi ini bisa terjadi di dunia
nyata bisa dikesampingkan lebih dulu. Menegnai kenyataan atau fakta-fakta dapat
didapatkan dari buku non fiksi, koran, dan bacaan yang mengandung kenyataan
bukan opini.
Kedua, penting halnya dalam
persiapan membaca. Usahakan emosi stabil sebelum membaca novel atau cerita
fiksi, terutama yang mengangkat tema atau konflik yang tajam. Kalau memang ingin
mencari gelitik emosi dari bacaan-bacaan fiksi, carilah yang tidak monoton, maksudnya
emosinya bukan hanya senang atau sedih atau datar saja, tetapi ada kalanya
lucu, mengesankan, menyeramkan dan lain-lain, serta nikmati bacaan itu dengan
ekspresi. Ternyata ada survey yang membuktikan bahwa pengaruh emosi dari
membaca intens buku setebal minimal 50 halaman jauh lebih tinggi daripada
menonton film berdurasi 2 jam.
Ketiga , Setelah
membaca novel atau cerita fiksi yang lain, cepat-cepatlah kembali ke dunia
nyata. Bersosialisasilah serta menghadapi kenyataan yang ada. Fase ini akan
membantu membawa skala emosi keluar dari ruang dunia nyata dan khayal untuk kembali
mengenali fase-fase emosi yang bisa terasa dengan pengaktivan panca indera
secara simultan dan holistik. Angin yang menerpa kulit dan rambut secara
langsung akan lebih menyehatkan daripada perasaan semilir yang timbul dari
adegan santai di taman di dalam cerita fiksi.
Yupz, bagaimana Smalane? Sekarang kita telah
mengetahui bahwa dalam membaca cerita fiksi atau novel kita melibatkan emosi
kita dan sebaiknya kita menjaga kesehatan emosi kita. Kita hidup dalam dunia
nyata bukan dalam dunia khayal yang dapat kita tentukan awal dan akhirnya. So, bacalah dan ambil manfaat dari
setiap bacaan yang kita baca. Gunakan hal yang telah kita ambil untuk
memberikan efek positif dalam diri sendiri, orang lain, nusa, dan bangsa.(aid)
Langganan:
Postingan (Atom)




