Jumat, 15 Maret 2013

Jangan Lagi Pandang Sebelah Mata


                Berdiam di pinggir jalan, mulai datang dan menghampiri kendaraan satu persatu ketika lampu merah mulai menyala. Dengan wajah polos khas anak anak, mereka datang menghampiri kaca mobil, bernyanyi sambil bermain gitar, berjualan koran, ataupun hanya sekedar menengadahkan tangan mengiba. Siapa yang tak pernah melihat anak – anak seperti mereka? Bahkan di depan sekolah kita sendiri sering terlihat pula gadis kecil yang sering mendekati dan membuntuti kita untuk menjual korannya.
                Banyak diantara kita yang memandang sebelah mata anak – anak bernasib kurang beruntung seperti mereka. Banyak diantara kita yang hanya tersenyum kecil tak peduli dan segera menghindar ketika mereka datang menghampiri. Tak sedikit pula yang bersikap acuh dan secara kasar menyuruh mereka untuk pergi. Memang terkadang kehadiran mereka terasa mengganggu, tapi pernahkah berpikir bahwa itu semua sebenarnya bukan salah mereka?

Senyum lepas Cita ketika berpose.(nhz)
                Seperti tutur gadis penjual di depan sekolah yang sering kita lihat, Cita. Pernahkah Smalane berkenalan lebih dekat dengannya? Tinggal dengan ibunya di jalan Ambengan, Cita adalah gadis kecil berumur 9 tahun dan berada di bangku kelas lima di salah satu SD Negeri Surabaya. Meskipun ketika diminta membaca judul koran yang dijualnya ia menolak dengan senyum malu, beruntungnya Cita masih sempat bersekolah. Berjualan di pinggir jalan sekitar Smala dari jam 11 siang ketika pulang sekolah sampai malam, Cita mengaku memang ibunya yang memintanya untuk berjualan, sedangkan ibunya sendiri tidak ikut dan hanya mengawasi Cita dari kejauhan. Meskipun tak ada waktu untuk bermain dan belajar, Cita berucap “Ya senang mbak, ikut membantu orang tua,” dengan senyum jenaka yang tulus.
                Begitu polos dan tulusnya anak jalanan seperti Cita, tegakah untuk bersikap kasar dengannya? Walau terkadang memang sedikit menyebalkan, namun sempatkanlah untuk berpikir apa yang membuat mereka bersikap seperti itu. Cita hanyalah satu diantara banyak anak jalanan yang ada di sekitar kita. Yang masih beruntung karena dapat merasakan bangku sekolah, tidak seperti anak jalanan lainnya yang cenderung tidak peduli masalah pendidikan, bahkan ada beberapa yang ingin, namun tak cukup beruntung untuk merasakannya. Maka dari itu Smalane, jangan lagi lihat mereka dengan sebelah mata. Mari perbaiki diri kita dengan ikut membantu, atau sekedar bersikap ramah dan tak acuh kepada anak – anak jalanan yang bernasib kurang beruntung seperti mereka.(ai)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar