Sabtu, 12 Mei 2012

Kami Pemimpin Bangsa



Siapkah kalian menjadi pemimpin bangsa? (ela)


“Kalian adalah pemimpin bangsa! Kalian adalah pemimpin peradaban!”
Tak asing dengan kalimat ini? Ya, kita sendiri sudah acap kali mendengarnya di lingkup Smala. Tak hanya sebatas di Perisai, namun juga dalam keseharian kita. Guru, kakak kelas, sesama teman, berbagai elemen Smala selalu mengingatkan kita akan hal ini. Bahkan Kita benar-benar diberi pemahaman agar kelak tak hanya menjadi pemimpin bangsa namun juga menjadi pemimpin peradaban.
Lantas, seperti apa sih pribadi pemimpin bangsa? Sebenarnya, tidak ada penggambaran khusus dan pasti tentang itu, tapi beruntung dari awal kita sudah mengetahuinya. Smalane, masih ingat ‘lagu kebangsaan’ kita?

Kami pemimpin bangsa tak kenal kata menyerah
Walaupun lelah, letih melanda
Badan ditegakkan, lihat lurus ke depan
Dengan semangat baja
Jangan hiraukan tipu daya kemalasan
Pikiran jernih, hatipun suci
Dengan petunjuk Tuhan yang Maha Pengasih
Meraih terus... Prestasi! Prestasi!

Sebagai Smalane, tentu kita sudah akrab sekali dengan lagu yang satu ini. Tak hanya sering mendengarkan, bahkan kita sendiri juga sering menyanyikannya, sebagaimana kita menyanyikan Mars Smalane. Lagu ini lah yang membakar semangat kita untuk maju. Maka dari itu, mari kita telaah makna lagu KPB...
Jika kita telaah, sudah jelas dituturkan bahwa pemimpin bangsa itu tak kenal yang namanya pesimis dan putus asa. Pemimpin bangsa tetap berusaha dan selalu optimis. Pemimpin bangsa harus bisa mendisiplinkan diri agar tidak berhenti berusaha dan terlena karena kemudahan. Pemimpin bangsa percaya dengan kuasa Tuhan yang Maha Esa. Dan... pemimpin bangsa terus meraih prestasi. Selain itu, masih banyak lagi pribadi pemimpin bangsa dalam lagu ini yang tak bisa dituliskan satu-persatu.
Selain makna-makna tadi, mari kita cari makna lain yang tersirat. Jika kita lihat lirik KPB, tidak ada kata ‘aku’ melainkan ‘kami’. Di sini, kita diperingatkan bahwa kita bersama-sama dengan yang lain, tidak sendirian. Smalane tak mungkin berdiri sendiri tanpa saling bahu-membahu untuk menjadi pemimpin bangsa, sehingga mengingatkan kita untuk menghindari sifat apatis. Kemudian, jika dilihat lagi, di lirik KPB tidak ada kata ‘mungkin’ namun tidak ada juga kata ‘harus’. Di sini kita tidak boleh ragu dalam jalan kita, namun kita juga tidak semerta-merta dipaksakan atau ditekan untuk menjadi pemimpin bangsa. Sudah sepatutnya kita mengetahui hak dan kewajiban kita sebagai generasi muda, yakni menjadi pemimpin yang berguna dan membanggakan bangsa. Secara keseluruhan, lagu ini sudah mencerminkan pribadi pemimpin bangsa yang diharapkan Smala.
Nah... Setelah membahas lagu KPB, sekarang kita tanya pada para Smalane. Apakah para Smalane benar-benar menangkap makna dalam lagu KPB? Apakah para Smalane sudah menerapkan jiwa pemimpin peradaban? Atau malah merasa lagu ini tidak melekat pada figur Smalane yang diharapkan menjadi pemimpin peradaban?
Bianda Retno, siswi kelas XI-IS, memiliki pandangannya sendiri tentang lagu KPB. Lagu ini dimaknainya sebagai semangat untuk tidak cepat menyerah. “Pemimpin kan tidak boleh cepat menyerah. Jadi tiap aku capek, terus ndengerin lagu itu, bisa jadi semangat lagi,” ujarnya. Selain itu, ia juga mengomentari notasi lagu KPB yang sederhana dan unik. “KPB itu nadanya lucu,” celetuknya.
Lain Bianda, lain lagi Priskila Kurniandini. Ia benar-benar menganggap lagu KPB ini lagu pembakar semangat. “Lagu KPB itu keren dan maknanya dalem banget. Buat orang yang mengerti maknanya pasti sangat meresapi dalam hati,” tuturnya. “Lagu KPB memang benar-benar motivasi Smalane untuk menjadi lebih baik. Apalagi angkatan kita ini angkatan spesial. Angkatan kita sudah diharapkan untuk menjadi pemimpin peradaban, dan lagu ini semakin memacu kita untuk mewujudkan harapan-harapan besar Smala pada kita,” pungkas penghuni kelas X-3 ini
Terus... Bagaimana tentang penerapannya?
“Para Smalane tahu lagu KPB itu maknanya bagus tapi terkadang mereka kurang sadar. Andaikan semua Smalane bisa menerapkan makna yang mereka dapat dari KPB, pasti luar biasa. Kita kan juga ngerasain seluar biasa apa nyanyiin lagu KPB sendiri,” tutur Rahma Aziza dari kelas XI IA-9, “Aku sendiri terkadang merasa kurang menerapkan makna KPB saat semangatku down,”
“Lagu KPB itu liriknya benar-benar mengena dan bisa bikin semangat dalam menjalankan tugas-tugas sebagai Smalane,” ungkap Nabilah Hanifah Mukti, “Tapi emang susah buat menjadi figur seideal gambaran di Lagu KPB,” tambah siswi kelas X-3 ini.
Wah... Ternyata mereka sudah menyadari dalamnya makna lagu KPB dan berusaha menerapkannya dalam figur Smalane. Merasa Smalane? Jangan sebatas menyanyikan lagu ini saja, tapi resapi dan terapkan makna di dalamnya. Apakah kalian sudah berusaha menerapkannya dalam pribadi masing-masing? Atau KPB ini hanya sekedar formalitas sebagai Smalane? Hanya kalian yang tahu jawabannya. Semangat! (dia/ram)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar